Lomba Fotografi Agrifasco 4th

Lomba Foto Agrifasco 4th
Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian Institut Teknologi Bandung mengundang teman-teman untuk ikut dalam rangkaian kegiatan 4th Agrifasco pada lomba fotografi bertemakan: “Pemanfaatan sumber daya lokal berbasis urban farming untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan dan berdikari”, dengan hadiah
Juara 1 : uang pembinaan Rp 800.000 + e-sertifikat
Juara 2 : uang pembinaan Rp 650.000 + e-sertifikat
Juara 3 : uang pembinaan Rp 500.000 + e-sertifikat
Pendaftaran peserta dimulai dari tanggal 3 Juli – 15 September 2018 dengan melakukan registrasi online di bit.ly/PendaftaranAGRIFASCO dan melakukan pembayaran sesuai ketentuan ke Bank BNI 0706433954 a.n Dea Anggraeni A.
Panduan lomba dapat diakses di
Lomba ini bisa diikuti siapa aja karena sifatnya umum lho 🙂
Line : @agrifasco
Twitter/Facebook/Instagram : Agrifasco
CP: Dinda (085717277504); ID Line: dinda_raraswati
#OptimizeYourLocal
#4thAgrifasco
#KeluargaAgrapana

Badan Pengurus Harian Periode 2018/2019

Badan Pengurus Harian #KeluargaAgrapana mulai menjabat 9 Mei 2018 dan mempunyai visi dan misi sebagai berikut:

Visi: 

HIMAREKTA “Agrapana” ITB yang mewadahi keilmuan dan mewujudkan semangat kekeluargaan

Misi:

  • Mempererat hubungan antar anggota HIMAREKTA “Agrapana” ITB dengan meningkatkan partisipasi dan apresiasi pada anggotanya
  • Mewadahi massa HIMAREKTA “Agrapana” ITB dalam memenuhi kebutuhan keilmuannya
  • Menjadikan HIMAREKTA “Agrapana” ITB sebagai naungan yang membekali setiap anggotanya

Adapun organogram untuk pengurusan ialah sebagai berikut:

klik untuk memperbesar

Program Hibah Bina Desa di Cibacang

phbd (1)Program Hibah Bina Desa atau disebut juga PHBD merupakan program yang diadakan oleh Dikti yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa pada bidang keilmuannya hingga terjun ke masyarakat. HIMAREKTA ‘Agrapana’ ITB merencanakan PHBD ini satu tahun sebelumnya. Kegiatan ini diawali dengan penyusunan proposal, kemudian menuju tahap presentasi. Setelah pengumuman lulus presentasi, peserta akan mendapatkan dana hibah. Selanjutnya, peserta akan menuju tahap Monev (Monitoring dan Evaluasi). Kegiatan tersebut dilakukan bersamaan dengan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa peserta PHBD. Kemudian, Kemenristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi) mendatangi ke suatu desa binaan, dan diakhiri dengan presentasi terkait laporan akhir. Setelah diadakannya acara ini, mahasiswa diharapkan mampu memiliki kemampuan dan dapat melanjutkan kegiatan pengabdian masyarakat ke sebuah desa binaan tersebut. Manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini terhadap suatu desa yaitu suatu desa dapat mengembangkan teknologi yang dibina oleh mahasiswa berdasarkan potensi yang dimiliki.

phbd (2)Salah satu tim yang mewakili HIMAREKTA ‘Agrapana’ dan ITB ini mengikuti program ini sejak dua tahun yang lalu. Tim tersebut saat itu diketuai oleh Amah (BA’13). Kemudian dilanjut pada tahun 2017, generasi kedua, yang diketuai oleh Rekha (BA’14) dengan anggota timnya yaitu Ajeng, Sofya, Fitri, Alyana, Suci, Mashab, Aziz, dan Aldi. Mereka melakukan kegiatan PHBD ini di Desa Cibacang dengan menanam kopi, kaliandra, ternak domba, dan lebah yang terintegrasi. Kegiatan ini dilakukan dengan pelatihan dan edukasi pengelolaan. Inovasi baru di Desa Cibacang yaitu adanya ternak lebah sebagai sarana penyerbukan kopi dan kaliandra. Harapan dari bina desa tersebut diharapkan masyarakat Desa Cibacang dapat mengetahui budidaya dan menghasilkan kopi, kaliandra, dan madu dari lebah secara meningkat.

phbd (3) phbd (4)

ditulis oleh Muhammad Khaidir Fadhilah (Mahasiswa Rekayasa Pertanian 2016)

AGRIFASCO 2018

AGRIFASCO 2018 adalah rangkaian acara tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian Institut Teknologi Bandung, HIMAREKTA ‘Agrapana’ ITB pada tanggal 20-21 Januari 2018. Terdapat 3 mata acara dari rangkaian acara ini diantaranya adalah lomba karya tulis ilmiah, seminar nasional, dan expo. Tahun ini AGRIFASCO mengusung tema: “Create a New Gold Era with Sustainable Agriculture for National Food Security Based on Food Resilience and Sovereignty”. AGRIFASCO tahun ini memiliki konsep berbeda dibanding tahun sebelumnya, tahun ini rangkaian acara AGRIFASCO dilengkapi dengan Expo atau pameran.

Lomba Karya Tulis Ilmiahagrifasco (3)

Lomba karya tulis ilmiah AGRIFASCO 2018 dibagi ke dalam 4 sub-tema yang dapat dipilih, yaitu Zero Waste, Pestisida Organik, Sistem Integrasi Tanaman dan Ternak, serta Urban Farming. Beberapa topik yang diangkat oleh peserta antara lain, penerapan sistem akuaponik pada tepi sungai Kapuas, pemanfaaatan limbah kopi sebagai pakan ternak dan media tumbuh jamur enoki, pemanfaatan kulit petai, dan juga bunga kentut yang dimanfaatkan sebagai pestisida natabi, serta topik – topik menarik lainnya. Pemenang lomba diumumkan pada tanggal 21 Januari 2018 di penghujung acara seminar nasional, dimana topik mengenai pupuk organik dari limbah industri tahu untuk tanaman Microgreen dan Hydrilla mampu membawa Universitas Muhammadiyah Malang memperoleh juara 1.

Seminar Nasional AGRIFASCO 2018

Seminar nasional AGRIFASCO 2018 diselenggarakan dalam rangka meningkatkan awareness atau kepedulian masyarakat akan konsep ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan pangan melalui integrated farming system atau sistem pertanian terpadu. Terdapat beberapa pembicara yang memaparkan materinya dan berdiskusi, diantaranya untuk sesi 1 dihadiri oleh Bapak Dr. Agung Hendriadi, M. Eng. sebagai Ketua Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Indonesia dan Bapak Dr. Robert Manurung selaku dosen SITH ITB; kemudian untuk sesi 2 dihadiri oleh Bapak Irsan Rajamin yang merupakan CTO dari Habibi Garden dan Ibu Dea Salsabilla Amira sebagai CEO Ur-Farm Coffee.

Urgensi dari ketersediaan pangan disampaikan oleh Pak Dr, Agung Hendriani selaku Ketua Badan Ketahanan Pangan. Beliau mengatakan, bahwa salah satu agenda dari agenda Nawa Cita Jokowi-JK adalah “Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan sektor strategis ekonomi domestik”, dimana salah satu sektor yang strategis adalah pertanian, untuk meningkatkan kedaulatan pangan. Bapak Dr. Robert Manurung menyatakan suatu konsep untuk menjawab permasalahan ini, yakni dengan desain agroekologi, yaitu pertanian yang meniru fungsi dan struktur dari ekosistem alaminya, sehingga terjadi interaksi yang dapat mendukung terjadinya keberlanjutan dalam pertanian.

Selain itu, teknologi yang pesat tentu dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ini. Bapak Irsan Rajamin memberikan solusi unik terhadap kemadirian dan ketahanan pangan, yakni dengan layanan perangkat pertanian presisi yang memungkinkan para petani berkomunikasi dengan tanaman. Solusi lain dengan pemanfaatan teknologi untuk memenuhi ketahanan dan kemandirian pangan dilakukan oleh Ibu Dea Salsabila Amira sebagai CEO Ur-Farm Coffee yang melakukan pemotongan rantai distribusi kopi, dari petani kopi ke konsumen.

Expo Agrifascoagrifasco (1)

Expo AGRIFASCO 2018 merupakan expo perdana yang bekerjasama dengan komunitas 1000 kebun. Expo tanggal 21 Januari 2018 ini diselenggarkan di Lapangan Basket CC Barat ITB Ganesha 8 pagi hingga 5 sore. Tujuan diadakannya Expo di tahun ini adalah untuk memperkenalkan kepada masyarakat umum tentang acara AGRIFASCO 2018, memperkenalkan komunitas 1000 kebun serta menyadarkan masyarakat tentang pentingnya hidup sehat.

Diperkirakan sekitar 200 orang yang hadir ke Expo AGRIFASCO, termasuk tamu istimewa yaitu Bapak Akhmaloka (rektor ITB periode 2010-2015), serta Ibu Iriawati (wakil rektor bidang sumberdaya dan organisasi periode 2015-2020). AGRIFASCO 2018 berjalan dengan baik dan lancar, karena masyarakat mendapat gagasan baru dari lomba karya tulis ilmiah, pencerdasan dari seminar, serta hiburan dan talkshow yang seru di expo.

ditulis oleh Yedida Barus (Mahasiswa Rekayasa Pertanian 2014)

AGRIFASCO (Agriculture Farming System Competition) 2016

Seminar AGRIFASCO 2016
Seminar AGRIFASCO 2016

AGRIFACSO atau Agriculture Farming System Competition merupakan acara tahunan pertama yang diadakan oleh HIMAREKTA ‘Agrapana’ ITB. Di tahun 2016 ini, Agrifasco mengusung tema “Sustainable Agriculture For People’s Prosperity” dengan rangkaian acara lomba dan seminar. Adapun acara seminar dilaksanakan pada tanggal 24 November 2016 bertempat di Aula Barat ITB. Seminar dibagi menjadi 2 sesi yaitu sesi I dengan tema Menuju Kedaulatan Pangan melalui Ketahanan Gizi dan Pangan serta sesi II yaitu Implementasi Sistem Pertanian Terpadu dalam Optimalisasi Produksi Pertanian.

Acara ini turut mengundang berbagai narasumber yang luar biasa di bidang pertanian diantaranya :

  1. Keynotes Speaker, Pak Farid – Staff Ahli Kementrian Pertanian
  2. Benny Rachman – Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan
  3. Ir. Nunung Nuryartono, M.Si yaitu Direktur INTERCAFE (International Centre for Applied Finance and Economics)
  4. Ir. Mubiar Purwasasmita – Penggagas Pertanian SRI Organik Indonesia
  5. Krisna Waworuntu – Praktisi Permakultur di Bumi Langit Institut Yogyakarta
  6. Utju Suiatna – Praktisi dari Agripreneur

SESI I

Di sesi I mengenai kedaulatan pangan, berdasarkan NAWACITA JOKOWI-JK 2015-2019, kedaulatan pangan termasuk dalam agenda poin 7 dimana mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Kedaulatan pangan ini sangat didukung oleh ketahanan pangan, pengaturan kebijakan (terutama UU No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan) dan kemampuan menyejahterakan masyarakat terutama petani dan nelayan. Dr. Benny menyatakan bahwa pangan berperan dalam pembangunann nasional sebagai kebutuhan dasar manusia, budaya, komponen kualitas SDM dan pilar utama pembangunan nasional serta stabilitas ekonomi, sosial dan politik. Namun, dalam swasembada pangan Indonesia masih banyak permasalahan seperti konversi lahan, kurangnya infrastruktur, input, SDM, kuailtas panen hingga dampak perubahan iklim. Pak Nunung juga menyatakan bahwa distribusi pangan sangat timpang dimana terdapat wilayah surplus dan wilayah deficit. Sehingga, pemerintah menyiapkan UPSUS atau upaya khusus untuk mengatasi pangan seperti diversifikasi, nilai tambah, penyediaan bahan baku dan kesejahteraan petani. Selain itu, kita juga harus memiliki pengetahuan yang luas agar dapat menciptakan inovasi untuk pertumbuhan ekonomi dan pengelolaan sumber daya alami secara holistik.

SESI II

Sesi II berbicara mengenai konsep keterpaduan dalam sistem pertanian dimana pertanian terdiri dari berbagai unsur yaitu tanah, tanaman, makhluk hidup dan faktor abiotik lainnya. Di awal seminar, Dr. Mubiar menyampaikan bahwa pertanian saat ini sudah tidak ramah lingkungan sehingga pendekatan sistem harus dibelokkan menjadi sistem tertutup yang mempergunakan nilai manfaat yang terintegrasi. Terdapat juga konsep bioreactor pada padi SRI tanaman dimana tanaman dapat menciptakan dapurnya sendiri untuk tumbuh serta dibantu oleh keefektifan kompos sebagai siklus ruang dan siklus hidup mikroba dalam pori-pori kapiler. Implementasi lain disampaikan oleh Pak Krisna mengenai permakultur dimana permakultur merupakan sistem pertanian yang mendukung lingkungan agar dapat bekerjsama dengan prinsip peduli, adil dan pel dan penerapannya di Bumi Langit Farm Yogjakarta. Hal ini juga dibenarkan oleh Pak Utju yang mendukung pertanian terpadu yaitu menggabungkan perternakan, perikanan agar memperoleh manfaat lebih banyak baik terhadap hasil maupun manfaat alam.

(Fakhira BA’13)

Menelusuri Pertanian di Jepang

Pada “Japan Experience Program 2016” tanggal 1-10 September lalu, Ilmiasa Saliha (BioAgriculture ‘13) melakukan perjalanan ke Jepang! Kegiatan yang dilakukan berupa field-trip ke beberapa perusahaan makanan, pertanian, lahan pertanian, dan street food. Salah tiga perusahaan yang menarik ialah “Ina No Sato” “Japan Agriculture (JA)”, dan “Tsutikko Tajima Farm” yang berlokasi di Minami-Aizu. Simak langsung pengalaman Ilmiasa berikut ini!

Inna no Sato

Ina no Sato mempunyai lahan produksi tomat dalam greenhouse yang berlokasi di kota kecil Minami-Aizu, prefektur Fukushima. Ina no Sato didirikan pada tahun 1997 dalam bentuk organisasi kemudian berkembang menjadi bentuk perusahaan pada tahun 2005. Ina no Sato memfasilitasi para petani kecil dalam budidaya tomat produksi. Konon katanya, tomat di Minami-Aizu ini cukup terkenal di Jepang karena harganya yang murah. Ada 4 jenis tomat produksi utama yang dibudidayakan, yaitu tomat kuning, tomat orange, tomat merah bulat, dan tomat merah lonjong. Kesemua tomat tersebut berbentuk kecil, imut, dan rasanya manis! Warna yang berbeda, rasa manisnya juga berbeda. Tomat -tomat ini juga enak dikonsumsi langsung sebagai snack daripada sebagai sayur loh! Produksi tomat paling besar di Ina no Sato ialah saat musim panas sedangkan musim dingin sulit dilakukan karena tebalnya salju yang menghambat pertumbuhan tomat. Nah, salah satu alternatif komoditas yang dibudidayakan saat winter ialah jamur namun harganya mahal karena cukup sulit menanam saat salju.

Greenhouse di Inna no Sato, Jepang
Greenhouse di Inna no Sato, Jepang

Untuk marketnya, tomat-tomat ini dijual di prefektur Fukushima dan Nigata, yaitu ke supermarket yang sudah memiliki kerjasama dengan Ina no Sato. Hal lain yang menarik ialah, produk tomat Ina no Sato memiliki sertifikat organik yang tertulis di boxnya. Lalu untuk produk beras, mereka memiliki sertifikat Eco-Farm loh! Sertifikat organik dan Eco-Farm ini di Jepang tidak terlalu sulit untuk didapatkan. Sekedar informasi, level sertifikat organik di Jepang ada beberapa. Level 1 untuk pure organic, level 2 untuk yang special, dan level 3 untuk eco-farm. Produk-produk Ina no Sato juga tidak mengandung GMO (Genetically Modified Organism), alias aman dan sehat.

Tomat Hasil Panen (Dokumentasi Pribadi, 2016)
Tomat Hasil Panen (Dokumentasi Pribadi, 2016)

Japan agriculture

Selanjutnya, tidak jauh dari Ina no Sato terdapat Japan Agriculture (JA) yaitu pabrik dan lahan tomat produksi yang lebih besar. Sedikit inovasi yang membedakan dari Ina no Sato ialah irigasi di lahan milik JA ini sudah otomatis menggunakan alat komputer pengendali (automatized & computerized). Lalu untuk mengusir serangga, di setiap ujung bedengan ditanam bunga pengusir serangga. Produk tomat yang sudah di-packaging di JA kemudian didistribusikan ke supermarket – supermarket terdekat.

Irigasi Modern di JA (Dokumentasi Pribadi, 2016)
Irigasi Modern di JA (Dokumentasi Pribadi, 2016)

Tuttiko Tajima Farm

Masih di kota kecil Minami-Aizu, ada Tsutikko Tajima Farm berbentuk perusahaan keluarga (family company) yang memproduksi bunga hias (bouquet), jus tomat, jus peach, jus apel, dan miso. Tsutikko Farm memiliki lahan buah-buahan sendiri yang bekerjasama dengan para petani dan alat-alat pembuat jus sendiri. Menariknya, Tsutikko Farm sudah memiliki timeline kerja yang jelas di setiap musimnya dalam menghasilkan produk. Saat spring dan summer, diproduksi bunga hias dan jus buah. Sedangkan saat winter diproduksi fermentasi miso. Semua yang dilakukan berdasarkan kemampuan pertumbuhan tanaman di musim yang berbeda. Jadi perusahaan ini bisa ‘running’ sepanjang tahun.

Tsutikko Tajima Farm (Dokumentasi Experience Japan Program, 2016)
Tsutikko Tajima Farm (Dokumentasi Experience Japan Program, 2016)

Dari Tsutikko Tajima Farm ini kita bisa belajar lebih jelas mengenai “The Sixth industrialization” untuk “Japanese Agricultural Development”, yaitu industrialisasi pertanian yang menggabungkan budidaya di lahan on farm (industri primer), food processing (industri sekunder), dan retail (industri tersier) dalam satu perusahaan, untuk memenuhi kebutuhan produk pertanian bagi konsumen. Jadi trend perusahan pertanian di Jepang saat ini sedang bergerak ke arah “The Sixth industrialization” sesuai arahan pemerintah.

So, buat kamu yang ingin memajukan pertanian dunia, bisa belajar banyak nih dari Jepang dan negara maju lain. Kenapa pertanian harus maju? Karena selama manusia membutuhkan makanan maka pertanian pasti akan selalu dibutuhkan. Jika pertaniannya maju, maka soal makan akan lebih mudah. Lalu kalau soal makan sudah beres, maka peradaban maju juga akan mengikuti dengan sendirinya. Itu yang sebetulnya kita semua inginkan, bukan?  So, the world really needs you, agri-youth! 🙂 (Ilmiasa Saliha)

LA NINA – Berkah atau Bencana?

Banjir La Nina (Sumber : abc.net.au)
Banjir La Nina (Sumber : abc.net.au)

Pertanian Indonesia memang sering disapa hangat oleh fenomena yang satu ini. Ya, apalagi kalau bukan La Nina. Menurut kabar dari Menteri Pertanian dan BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika),  La Nina berlangsung selama tiga bulan di Indonesia pada tahun 2016 lalu. Anomali cuaca tersebut, akan dimulai pada bulan Juli dan berakhir pada bulan September. Nah, perlu bagi kita untuk memahami La Nina ini terutama dampaknya pada bidang pertanian. Langsung saja, simak yang berikut ini!

Apa itu La nina?

Kondisi La Nina (Sumber : google.com)
Kondisi La Nina (Sumber : google.com)

La Nina merupakan kondisi anomali cuaca yang terjadi di daerah Samudra Pasifik dan Indonesia bagian timur. La Nina merupakan hujan yang sangat lebat yang turun pada musim kemarau. La Nina dapat terjadi karena suhu pada Indonesia bagian timur lebih tinggi daripada suhu di Samudra Pasifik sehingga penguapan air laut menjadi tinggi dan dapat menurunkan hujan lebat dan berkepanjangan di kawasan Asia Tenggara dan Australia.

Apa dampaknya?

La Nina (Sumber : google.com)
La Nina (Sumber : google.com)

Pertanian sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Fenomena La Nina dapat berdampak pada peningkatan intensitas air sehingga menimbulkan banjir serta gangguan hama dan penyakit bagi tanaman. Banjir yang terjadi di areal sawah berdrainase buruk dapat mengakibatkan gagal panen dan gangguan hama timbul akibat cuaca yang lembab dan basah. Sisi positifnya, fenomena ini dapat mengurangi kasus kekeringan dan meningkatkan luas panen terutama pada lahan sawah tadah hujan.

Bagaimana Strategi menghadapinya?

Saat ini, Pemerintah telah menyiapkan strategi berupa percepatan tanaman pangan, seperti padi, jagung, dan kedelai. Hal ini dimaksudkan untuk memasok curah hujan agar siap pada akhir tahun. Selain itu, dilakukan pula normalisasi jaringan irigasi primer &sekunder, persiapan pompa- pompa pembuangan air serta pembangunan sumur untuk menyerap air di daerah rawan banjir. Dengan demikian gagal panen dapat dihindari.

(Dari berbagai sumber)