AGRIFASCO (Agriculture Farming System Competition) 2016

Seminar AGRIFASCO 2016
Seminar AGRIFASCO 2016

AGRIFACSO atau Agriculture Farming System Competition merupakan acara tahunan pertama yang diadakan oleh HIMAREKTA ‘Agrapana’ ITB. Di tahun 2016 ini, Agrifasco mengusung tema “Sustainable Agriculture For People’s Prosperity” dengan rangkaian acara lomba dan seminar. Adapun acara seminar dilaksanakan pada tanggal 24 November 2016 bertempat di Aula Barat ITB. Seminar dibagi menjadi 2 sesi yaitu sesi I dengan tema Menuju Kedaulatan Pangan melalui Ketahanan Gizi dan Pangan serta sesi II yaitu Implementasi Sistem Pertanian Terpadu dalam Optimalisasi Produksi Pertanian.

Acara ini turut mengundang berbagai narasumber yang luar biasa di bidang pertanian diantaranya :

  1. Keynotes Speaker, Pak Farid – Staff Ahli Kementrian Pertanian
  2. Benny Rachman – Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan
  3. Ir. Nunung Nuryartono, M.Si yaitu Direktur INTERCAFE (International Centre for Applied Finance and Economics)
  4. Ir. Mubiar Purwasasmita – Penggagas Pertanian SRI Organik Indonesia
  5. Krisna Waworuntu – Praktisi Permakultur di Bumi Langit Institut Yogyakarta
  6. Utju Suiatna – Praktisi dari Agripreneur

SESI I

Di sesi I mengenai kedaulatan pangan, berdasarkan NAWACITA JOKOWI-JK 2015-2019, kedaulatan pangan termasuk dalam agenda poin 7 dimana mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Kedaulatan pangan ini sangat didukung oleh ketahanan pangan, pengaturan kebijakan (terutama UU No. 18 Tahun 2012 Tentang Pangan) dan kemampuan menyejahterakan masyarakat terutama petani dan nelayan. Dr. Benny menyatakan bahwa pangan berperan dalam pembangunann nasional sebagai kebutuhan dasar manusia, budaya, komponen kualitas SDM dan pilar utama pembangunan nasional serta stabilitas ekonomi, sosial dan politik. Namun, dalam swasembada pangan Indonesia masih banyak permasalahan seperti konversi lahan, kurangnya infrastruktur, input, SDM, kuailtas panen hingga dampak perubahan iklim. Pak Nunung juga menyatakan bahwa distribusi pangan sangat timpang dimana terdapat wilayah surplus dan wilayah deficit. Sehingga, pemerintah menyiapkan UPSUS atau upaya khusus untuk mengatasi pangan seperti diversifikasi, nilai tambah, penyediaan bahan baku dan kesejahteraan petani. Selain itu, kita juga harus memiliki pengetahuan yang luas agar dapat menciptakan inovasi untuk pertumbuhan ekonomi dan pengelolaan sumber daya alami secara holistik.

SESI II

Sesi II berbicara mengenai konsep keterpaduan dalam sistem pertanian dimana pertanian terdiri dari berbagai unsur yaitu tanah, tanaman, makhluk hidup dan faktor abiotik lainnya. Di awal seminar, Dr. Mubiar menyampaikan bahwa pertanian saat ini sudah tidak ramah lingkungan sehingga pendekatan sistem harus dibelokkan menjadi sistem tertutup yang mempergunakan nilai manfaat yang terintegrasi. Terdapat juga konsep bioreactor pada padi SRI tanaman dimana tanaman dapat menciptakan dapurnya sendiri untuk tumbuh serta dibantu oleh keefektifan kompos sebagai siklus ruang dan siklus hidup mikroba dalam pori-pori kapiler. Implementasi lain disampaikan oleh Pak Krisna mengenai permakultur dimana permakultur merupakan sistem pertanian yang mendukung lingkungan agar dapat bekerjsama dengan prinsip peduli, adil dan pel dan penerapannya di Bumi Langit Farm Yogjakarta. Hal ini juga dibenarkan oleh Pak Utju yang mendukung pertanian terpadu yaitu menggabungkan perternakan, perikanan agar memperoleh manfaat lebih banyak baik terhadap hasil maupun manfaat alam.

(Fakhira BA’13)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *