Internet of Things (IoT) dalam Industri Pertanian 4.0

Memasuki era industri 4.0, tanpa disadari tentunya IoT sudah bukan suatu hal yang asing lagi bagi kita. Internet of Things atau sering disebut IoT adalah sebuah gagasan dimana objek tertentu mempunyai kemampuan untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lain sebagai bagian dari satu kesatuan sistem terpadu menggunakan jaringan internet sebagai penghubung tanpa memerlukan adanya interaksi dari manusia ke manusia ataupun dari manusia ke perangkat komputer[1]. Dalam konsep IoT, berbagai perangkat dapat saling terhubung melalui internet. Teknologi ini dapat memudahkan dalam pengintegrasian perangkat-perangkat yang digunakan dalam seluruh bidang, termasuk pertanian.

Manfaat IoT

Berikut merupakan manfaat yang dapat diperoleh melalui penerapan IoT:

  1. Konektivitas. Melalui IoT, kita dapat mengoperasikan banyak hal dari satu perangkat misalnya smartphone.
  2. Efisiensi. Dengan peningkatan konektivitas, terdapat penurunan jumlah waktu yang biasanya dihabiskan untuk melakukan tugas yang sama.
  3. Kemudahan. Dengan penerapan IoT, tidak perlu mengoperasikan suatu perangkat secara manual serta dapat mempermudah suatu aktivitas.[2] 

Setelah mengetahui manfaat dari IoT, penerapan IoT seperti apa ya yang dapat diaplikasikan ke bidang pertanian? Berikut kami paparkan beberapa penerapan IoT dalam bidang pertanian:

Precision Farming dengan Sensor Pertanian Terintegrasi

Precision farming merupakan konsep pertanian dengan keakuratan sesuai kondisi lapangan. Penerapan Precision farming dengan sensor yang terhubung IoT dapat memaksimalkan akurasi dikarenakan data yang didapat secara real time. Konsep precision farming telah diterapkan di daerah Sukabumi pada tahun 2019. Program ini didirikan Mitra Sejahtera Bangsa (MSMB) dengan bantuan Asian Development Bank dan Bappenas. Pengaplikasian ini menggunakan 20 sensor (diantaranya sensor tanah, cuaca, dan debit air) yang terhubung dengan internet.

Agricultural Drone

Penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau yang lebih dikenal dengan drone merupakan inovasi yang sudah mulai sering digunakan. Menurut Putranto dan Dini (2018)[3], Sistem drone berfungsi sebagai pemetaan kondisi pertanian (irigasi, kondisi tanaman, pelacakan hewan), dan sebagai penyemprot pestisida maupun pupuk. Penggunaan drone dapat meningkatkan presisi penyemprotan dan pemetaan serta menghemat waktu karena petani tidak perlu langsung turun ke lapangan.

Smart Greenhouse

Tanaman yang ditanaman di rumah kaca bertujuan agar dapat terisolasi dari lingkungan luar sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pengaplikasian sensor ini dapat membantu menjaga lingkungan greenhouse mendukung pertumbuhan tanaman. Sensor lingkungan (suhu, kelembaban ruangan dan tanah, intensitas cahaya ) yang terhubung dengan internet dapat menyediakan data real time sehingga akan memudahkan perawatan[4].

Penerapan IoT dalam pertanian ternyata sangat menarik bukan? Dilihat secara keseluruhan, penerapan IoT dalam pertanian ini ternyata sangat membantu terutama dalam hal perawatan agar tanaman pertanian dapat tetap terjaga kualitasnya sehingga dapat menghasilkan hasil pertanian yang efektif. Namun di Indonesia sendiri penggunaan IoT masih memiliki pro dan kontra seperti di bawah ini:

Pro :

  • Praktis, cukup dengan satu sistem kendali, banyak aspek dapat dikendalikan seperti suhu, kelembaban, pemberian air, dll.
  • Dapat meningkatkan efisiensi produksi
  • Pertumbuhan dan produksi tanaman dapat dipantau secara real time
  • Memudahkan dalam perawatan tanaman.

Kontra :

  • Petani sulit merubah kebiasaan lama. Terbiasa dengan pola budidaya konvensional
  • Memerlukan modal awal yang besar
  • Butuh pelatihan penggunaan teknologi kepada petani
  • Adanya stigma bahwa pekerjaan petani akan digantikan mesin, sehingga petani merasa takut terhadap perubahan teknologi.

Berdasarkan pro dan kontra di atas terkait penggunaan IoT dalam pertanian, maka kita perlu membuat stratetegi penting agar kedepannya kita dapat mengembangkan dan memaksimalkan potensi pertanian dengan IoT. Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Perlu penerapan multidisiplin ilmu
  • Regenerasi petani muda yang paham teknologi
  • Membangun komunikasi yang baik dengan para petani
  • Pembuatan Pilot Project, sehingga dapat memberikan contoh penerapan IoT yang sukses.

Dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan teknologi tak dapat terelakkan dan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan. Sudah saatnya bagi calon perekayasa pertanian untuk mulai bergerak, mengamati keadaan pertanian saat ini, berinovasi serta terus mengembangkan potensi pertanian Indonesia yang dimiliki. Sekarang saatnya petani muda yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik demi memajukan pertanian Indonesia.


[1] Wilianto, W., & Kurniawan, A. (2018). Sejarah, cara kerja dan manfaat internet of things. Matrix: Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika8(2), 36-41.

[2] https://www.jagoanhosting.com/blog/pengertian-internet-of-things-iot/

[3] Putranto, R. A., dan Dini A. S. 2018.“Perlukah DUnia Pertanian Mengenal Internet of things”. Iribb, 6(2): 29-32.

[4] https://www.postscapes.com/greenhouse-climate-and-control-systems/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *