KASURA 2.0: Teknologi Pertanian

Kesejahteraan Petani

Sebagai negara agraris, proporsi terbesar penduduk Indonesia berada di sektor pertanian. Pelaksanaan pembangunan perekonomian nasional, pedesaan, dan perkotaan juga telah banyak menunjukkan peningkatan. Namun, masalah kemiskinan masih belum terpecahkan. Faktanya banyak orang kaya yang berasal dari petani dan banyak orang miskin yang juga dari petani. Kegiatan pembangunan telah berhasil meningkatkan produksi pertanian namun belum cukup mampu meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, dan penanggulangan kemiskinan di pedesaan.

“Petani dikatakan sejahtera jika mereka mengeluarkan modal rendah tetapi hasilnya tinggi”

Permasalahan yang Berhubungan dengan Kesejahteraan Petani

Masalah dalam bidang pertanian saat ini dapat mengganggu kesejahteraan petani, salah satunya adalah masalah teknologi. Teknologi pertanian di Indonesia sudah berkembang dari proses produksi dihulu hingga hilir. Berbagai macam prototipe alat dan mesin pertanian telah dihasilkan oleh Kementerian Pertanian. Di era revolusi industri 4.0, petani dituntut untuk memanfaatkan teknologi digital dalam mengelola usahataninya. Namun, akses terhadap teknologi yang terbatas dan minimnya pengetahuan menyebabkan petani sulit untuk menyesuaikan diri dengan teknologi yang ada. Kendala yang ada dalam pengaksesan teknologi tersebut diantaranya adalah:

  1. Kendala biaya yang dirasa mahal
    Banyak petani kecil yang terkendala dana dalam menggunakan teknologi untuk mengembangkan usahanya. Selain permodalan, produk yang keluar tidak mempertimbangkan penggunanya. Salah satunya adalah harus menggunakan smartphone, sehingga teknologi belum tepat sasaran.
  2. Kurangnya kapabilitas petani untuk memanfaatkan teknologi
    Kebanyakan petani kecil masih buta terhadap teknologi, namun saat ini banyak anak muda yang tertarik untuk berkecimpung di bidang pertanian. Permasalahan yang perlu ditekankan disini adalah banyaknya teknologi dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah belum tepat guna dan tepat sasaran. Masalah lainnya adalah petani kebanyakan berada di daerah pedalaman yang terkendala dengan jaringan dan tidak adanya pengawasan dan pembinaan secara terus menerus. Contohnya adalah adanya bantuan screenhouse kepada petani, namun saat dicek beberapa waktu kemudian, screenhouse yang ada ditinggalkan oleh petani tersebut karena ada kebingungan ditengah-tengah prosesnya.

Dari kendala-kendala tersebut, maka dihasilkan solusi beberapa solusi, yaitu diadakannya pencerdasan dan pemberdayaan petani yang primitif oleh pemerintah, dilakukannya pembinaan secara rutin, dan pengadaan teknologi yang memiliki ilmu dasar dan cara kerja yang mudah dipahami.

Permasalahan Teknologi pada Petani Sawah di Rancaekek

Dalam kajian ini, sampel yang diambil adalah petani di Rancaekek yang banyak terlibat dalam komoditas petani dan petani di Lembang yang banyak terlibat dalam komoditas hortikultura. Petani di Rancaekek mengalami permasalahan yang cukup banyak, seperti banjir, limbah pabrik dan perumahan, alih fungsi lahan serta teknologi pada proses penanaman, perawatan hingga penanaman padi. Berdasarkan masalah tersebut, kajian ini difokuskan pada petani Rancaekek yang mengalami permasalahan di bidang teknologi pertanian. Lahan pertanian sawah di Rancaekek tidak berbentuk seperti terasering, melainkan berupa hamparan yang luas. Sehingga teknologi yang biasa digunakan dalam tahap pembudidayaan padi adalah:

  1. Pengolahan tanah dan penanaman: Traktor
    Masalah dari tahap ini adalah penggunaan traktor dalam pengolahan tanah dan penanaman menjadi tidak efektif ketika musim kemarau
  2. Perawatan: Penyemprot pupuk dan pestisida
    Masalah dari tahap ini adalah cara penggunaan alat penyemprot pupuk dan pestisida dengan digendong membuat banyak petani mengeluh
  3. Pemanenan: Alat rontok padi
    Masalah dari tahap ini adalah hasil dari penggunaan alat ini biasanya menyebabkan padi menjadi terbelah dua

Fokus utama kajian ini tidak hanya teknologi dengan mekanisasi, namun dapat juga berupa cara/metode baru untuk meminimalisir cost dan waktu. Waktu dan biaya mesin/tenaga kerja dari proses penanaman hingga panen dapat dianalisis dengan Value Stream Mapping. Value Stream Mapping adalah alat untuk mengidentifikasi dan memetakan aliran nilai dan pemborosan yang terjadi di suatu sistem.

Dari VSM diatas, dapat disimpulkan waktu yang dibutuhkan pada setiap proses dari mulai penanaman, perawatan dan penanaman padi adalah 2796 hours atau setara dengan 117 hari dengan biaya mesin/tenaga kerja +/- Rp1.807.000,00. Sehingga dibutuhkan suatu inovasi teknologi di bidang pertanian untuk mengefektifkan waktu, biaya dan lain sebagainya. Bentuk inovasi pengembangan teknologinya adalah Penggantian,Perubahan, Penambahan, Penyusunan kembali, Penghapusan dan Penguatan. Kebutuhan fungsi teknologi yang dibutuhkan petani Rancaekek dalam mengelola padi adalah

Contoh teknologi usulan yang biasa digunakan:

Analisis VSM setelah diterapkannya teknologi pertanian seperti diatas adalah:

Setelah teknologi tersebut diterapkan maka dapat memangkas waktu dan biaya yang dibutuhkan menjadi 2760 jam atau setara 115 hari dengan biaya mesin/tenaga kerja +/- Rp 1.045.000,00

Kesimpulan dan Inovasi

  1. Kondisi petani di Rancaekek:
    a. Pembajakan sawah sudah baik, namun ada kendala diharga sewa traktor yang tinggi.
    b. Panen sudah baik, pemerintah memberikan tresher (alat pemisah gabah dengan bulir padi).
    c. Fokus kajian di perawatan, khususnya pemupukan dan pemberian pestisida (masih menggunakan alat yang digendong).
  2. Tidak semua proses dalam pertanian cocok untuk disisipkan teknologi industri 4.0, bisa jadi jika semua aktivitas disisipkan teknologi industri 4.0, malah menambah biaya.
  3. Teknologi yang dikembangkan sebaiknya berakar dari kebutuhan. Misal masalah pupuk yang berkilo-kilo harus digendong oleh petani, mungkin dapat digunakan roda untuk mobilisasi pupuk.
  4. Moderator sudah mengecilkan proses perawatan menjadi 2 sub komponen. Namun perlu dijabarkan lagi penggunaan waktu, kuantitas air, atau cost dari setiap subkomponen tersebut, sehingga kita tahu tingkat kepentingan masalah. Mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu (prioritas).

Ide/Inovasi

  1. Teknologi dalam pemberian pestisida dilihat dari fisik tanaman. Contoh aplikasi yang sudah ada adalah Neurafarm (Sensor fisik).
  2. Perlu dihubungkan pertanian dengan SIG (Sistem Informasi Geografis).
  3. Alat yang digendong perlu diganti dengan alat penyemprot dari luar/pinggir sawah (jarak cukup jauh dari tanaman, misal dengan memanfaatkan tekanan).
  4. Untuk luasan lahan besar dengan pelaku pertanian sedikit, penggunaan drone cukup baik. Selain alat, penggunaan sistem tanam jajar legowo juga cocok untuk mengatasi serangan hama.
  5. Kita dapat menggunakan biopestisida dibanding dengan pestisida biasa, karena lebih long lasting.
  6. Perlu dilakukan rekayasa sistem kerja, yaitu dengan mendesain dan menerapkan sistem kerja yang ergonomi, agar dapat meningkatkan produktivitas pekerja/petani.
  7. Cakupan kita adalah petani Rancaekek. Kemarin sebelumnya sudah wawancara, dimana aktivitas perawatanlah yang dapat dikembangkan, khususnya penebaran pupuk dan pestisida. Cara yang mungkin diterapkan adalah
    a. High tech : drone
    b. Low tech : sprinkle
    Inovasi sprinkle disini yaitu dapat menyebar pupuk dan pestisida dengan merata di lahan (kemungkinan butuh sensor). Lalu dapat digunakan baik untuk pupuk maupun untuk pestisida (dual fungsi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *