Category Archives: Sejarah

Polusi Udara ? Lidah Mertua Solusinya!

Polusi udara Jakarta semakin memburuk semenjak beberapa minggu terakhir yang ditunjukan oleh data Airvisual pada pertengahan Juli dan awal Agustus lalu. Berdasarkan index AQI yaitu indeks yang digunakan oleh airvisual untuk menggambarkan tingkat polusi udara, kualitas udara Jakarta berada pada angka 156 yang mengindikasikan bahwa udara Jakarta berada pada ambang tidak sehat. Data ini juga diperkuat oleh pemantauan satelit lapan bahwa telah terjadi penurunan kualitas udara dibeberapa daerah di Indonesia termasuk Bandung, Medan dan Surabaya. Polutan utama yang digunakan airvisual untuk menggambarkan tingkat polusi udara adalah PM 10, karbonmonoksida, asam belerang, nitrogen dioksida dan ozon. Polusi udara ini disebabkan oleh aktivitas industri, kendaraan bermotor, dan diperparah dengan adanya musim kemarau. Pemerintah Jakarta berdasarkan Intruksi Gubernur Jakarta no 66 tahun 2019, telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan tersebut. Diantaranya adalah pemberlakuan kendaraan ganjil genap, hingga membagikan tanaman lidah mertua secara gratis.

Tanaman Lidah Mertua

Salah satu solusi alternatif untuk mengurangi dampak polusi udara adalah penggunaan tanaman lidah mertua. Tanaman Lidah Mertua (Sansevieria) merupakan tanaman hias yang berbentuk runcing menyerupai pedang, memiliki daun tebal dengan kandungan air yang tinggi. Bentuk daun rata, tumbuh tegak, kaku dengan tinggi 40-100 cm. Tanaman ini tumbuh baik pada lingkungan dengan tanah yang tidak terlalu lembab, curah hujan 250 mm/tahun, cahaya matahari penuh 1000-10.000 fc, dan suhu optimum 24-29oC. Tanaman ini dapat berfungsi sebagai filter alami karena memiliki efektivitas untuk mengurangi detoks. Lima helai daun lidah mertua efektif untuk membersihkan ruangan seluas 100 m2, karena jumlah stomata yang dimilikinya.

Efektifitas Lidah Mertua
Lidah mertua memiliki efektifitas sebagai tanaman anti polusi, karena lidah mertua memiliki jumlah klorofil yang banyak dan kerapatan stomata yang tinggi. Apabila gas beracun masuk ke dalam stomata, maka polutan tersebut akan terikat dan menggantikan Mg pada bagian klorofil. Proses pengikatan logam berat ini juga dibantu oleh mikroba seperti Rigidoporus microporus yang berada di akar lidah mertua. Keefektifan lidah mertua ini telah diuji dengan berbagai metode, salah satunya adalah dengan metode ekstraksi. Metode ekstraksi dilakukan dengan meletakkan tanaman lidah mertua dan tanaman lain sebagai pembanding di tempat yang telah diberikan polutan. Setelah dibiarkan beberapa lama, kedua tanaman tersebut diekstrak untuk dilihat efektifitasnya dalam mengurangi polutan. Penelitian NASA juga membuktikan bahwa tanaman Sansevieria mampu menyerap 107 racun dan polutan.

Tanaman Garbera Daisy

Selain tanaman lidah mertua, tanaman Garbera daisy memiliki efektifitas sebesar 35% dalam menyerap polutan. Angka tersebut cukup tinggi dibandingkan dengan tanaman lidah mertua yang hanya memiliki efektifitas sebesar 13%. Tanaman bambu dan palm kuning juga sangat cocok digunakan sebagai tanaman outdoor penyerap polusi. Namun, tanaman yang dapat menyerap populasi tertinggi adalah tanaman jenis pohon-pohonan, yaitu trembesi yang memiliki efektivitas besar dalam menyerap polutan. Satu pohon trembesi mampu menyerap 28,5 ton gas CO2, selain itu juga ada pohon jati, mahoni, saga, akalipa merah, dan cemara angin.

Pohon Trembesi

Lalu bagaimana cara mengurangi polusi?

  1. Dilakukan pembuatan taman kota dengan melibatkan ahli-ahli dibidang lingkungan, kehutanan dan pertanian untuk menempatkan tanaman. Hal ini penting dilakukan karena karakteristik tanaman, baik itu pohon ataupun tanaman hias sangat penting diketahui karakteristiknya disamping aspek estetika
  2. Melakukan rekayasa genetik terhadap tanaman yang memiliki efektifitas menyerap polutan sehingga pengurangan polutan bisa lebih cepat
  3. Membuat konsep gedung dengan kombinasi ruang hijau, karena menggunakan tanaman lidah mertua saja tidak cukup untuk mengurangi polusi udara
  4. Penggunaan vertikultur di setiap rumah bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi polutan di perkotaan

Sumber :
https://m.detik.com/news/berita/d-4678958/data-airvisual-sabtu-pagi-udara-jakarta-terburuk-ke-3di-dunia https://www.google.com/urlsa=t&source=web&rct=j&url=https://www.scribd.com/document/356 910980/7-jurnal-Nanikpdf&ved=2ahUKEwjQuuPk1Z3kAhXDMI8KHddzAgAQFjABegQICBAB&usg=AOvVaw1e2of74TDIizqkW qzMqUro
https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190724140622-255-415075/menakar-efektivitas-lidahmertua-untuk-atasi-polusi-jakarta
https://bibitbunga.com/mengenal-lidah-mertua-tanaman-penyerap-polusi/
https://pdfs.semanticscholar.org/8baf/a04f422f1a98b620563d0e7cfdaee1c37647.pdf?_ga=2.46276 775.1689123022.1566729707-758164464.1566729707
https://megapolitan.kompas.com/read/2019/07/24/07444551/di-balik-keputusan-pemprov-dkipakai-lidah-mertua-sebagai-solusi-polusi?page=all

Agrapana Punya Kebun

Kebun Agrapana merupakan sebuah kebun yang terletak didekat Sekretariat HIMAREKTA “Agrapana” ITB, dimana pengolahannya dilakukan oleh massa Agrapana. Sampai saat ini, kebun tersebut masih digarap dan ditanami berbagai tanaman sayuran dan bunga-bungaan. Kebun yang digarap oleh massa Agrapana ini telah ada dari tahun 2017 dalam bentuk proker “Agrapanen”. Pada tahun 2018, proker tersebut berganti nama menjadi “Kebun Agrapana”, sedangkan pada tahun 2019 berganti nama kembali menjadi “Berkelana (Berkebun ala Agrapana)”.

Pengolahan kebun saat proker Kebun Agrapana

Pengolahan kebun Agrapana ini diinisiasi oleh Departemen Keilmuan dan Keprofesian HIMAREKTA “Agrapana” ITB untuk kemudian digarap bersama oleh massa. Biasanya pengolahan kebun ini membutuhkan waktu sekitar 1-2 hari untuk benar-benar bisa ditanami dengan berbagai jenis tanaman. Lalu ketika pemanenan, tanaman-tanaman yang ada di kebun Agrapana akan dipanen bersama-sama oleh massa, kemudian hasil panen akan diolah menjadi berbagai jenis makanan dan dikonsumsi bersama-sama sebagai bentuk rasa kekeluargaan.

Hidroponik di Kebun Sekretariat Agrapana

Tahukah kalian? Tanaman yang berada di kebun Agrapana ini tidak hanya ditanam di lahan, melainkan ditanam pula dalam bentuk non lahan, yaitu hidroponik. Biasanya jika diadakan suatu event, hidroponik dari kebun Agrapana ini menjadi salah satu karya yang ditampilkan sebagai bentuk karya keprofesiannya.

Lalu bagaimana kebun Agrapana Kedepannya ?

Rencana kedepannya kebun ini akan ditanami dengan sukulen, jamur dan beberapa tanaman semusim dengan metode vertikultur. Kebun tersebut juga akan ditanami berbagai jenis bunga-bungaan untuk memperindah suasana Sekre HIMAREKTA “Agrapana” ITB.

Budidaya Jamur saat proker Agrapanen

Penasaran dengan kebun Agrapana seperti apa? Ayo kunjungi sekretariat kami!

Apa Kabar Cibacang?

Masih ingat dengan Desa Binaan HIMAREKTA “Agrapana” ?

Yap benar! Jawabannya adalah Desa Cibacang.

Saat ini HIMAREKTA “Agrapana” ITB sedang membantu Desa Cibacang dalam pembangunan UPH (Unit Production House) yang mendapat bantuan dana dari CSR Paragon, dana tersebut telah diberikan secara langsung kepada A Sandi (sekretaris kelompk tani Mekar Barokah). UPH ini dilakukan karena panen raya kopi akan dilaksanakan pada bulan April-Mei. Selain itu, UPH akan dijadikan tempat produksi kopi mulai dari biji hingga menjadi cherry. Produksi kopi ini dibantu dengan mesin huller dan pulper yang selama ini ditempatkan di beberapa rumah warga saja.

Kondisi UPH saat ini

Pencetusan ide UPH dilakukan saat musyawarah rutin yang dilakukan kelompok tani Mekar Barokah. Dalam muswarah tersebut terdapat dua pilihan lokasi UPH, yaitu di dekat lapangan voli dan depan GSG. Meninjau hal tersebut, dilakukan pertemuan antara tim PHBD dengan ketua kelompok tani (Pak Yayat), sekretaris (A Sandi), dan Humas (Pak Ahri) untuk membicarakan pembangunan UPH lebih lanjut. Selanjutnya, tim PHBD melakukan survey di kedua lokasi, mendesain, dan menghitung RAB.

Lokasi Pembangunan UPH

Akhirnya diputuskan bahwa lokasi UPH berada di depan GSG. Pembangunan UPH diawali dengan perataan jalan, pembangunan kontruksi, pemindahan rumah hibah (untuk dinding dan atap), pembuatan jalur pembuangan limbah, dan pembuatan bak pencucian. Hingga saat ini, pembangunan UPH yang masih dikerjakan adalah pembuatan bak pencucian. Namun dalam pembangunan UPH ini terdapat kendala, yaitu dalam pengerjaan tiap harinya hanya dilakukan oleh 3 orang dalam waktu singkat.

Kerja bakti pembangnan UPH

Lalu bagaimana dengan rencana ke depannya?

Timeline Pembangunan UPH 2019

HIMAREKTA “Agrapana” ITB akan melakukan mediasi dan sosialisasi program ke warga Desa Cibacang. Selain itu, mari kita lakukan social mapping dan sampai jumpa di kabar Desa Cibacang selanjutnya!

Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian “Agrapana” ITB

HIMAREKTA “Agrapana” ITB merupakan himpunan jurusan Rekayasa Pertanian yang mewadahi mahasiswanya  sebagai sarana belajar, berkarya serta mengaplikasikan Tridharma Perguruan Tinggi. Adapun makna dari kata Agrapana adalah sumber hidup yang utama, yang diambil dari bahasa sansekerta. Kata Agrapana menunjukkan bahwa mahasiswa program studi Rekayasa Pertanian ITB merupakan insan mulia yang dapat menjadi pelaku utama atau tokoh penting dalam kehidupan.  Agrapana ITB didirikan dan mulai aktif pada tanggal 11 April 2015. Himpunan ini berlokasi di Kampus ITB Jatinangor.

Lambang HIMAREKTA "Agrapana" ITB
Lambang HIMAREKTA “Agrapana” ITB