All posts by agrapana

Internet of Things (IoT) dalam Industri Pertanian 4.0

Memasuki era industri 4.0, tanpa disadari tentunya IoT sudah bukan suatu hal yang asing lagi bagi kita. Internet of Things atau sering disebut IoT adalah sebuah gagasan dimana objek tertentu mempunyai kemampuan untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lain sebagai bagian dari satu kesatuan sistem terpadu menggunakan jaringan internet sebagai penghubung tanpa memerlukan adanya interaksi dari manusia ke manusia ataupun dari manusia ke perangkat komputer[1]. Dalam konsep IoT, berbagai perangkat dapat saling terhubung melalui internet. Teknologi ini dapat memudahkan dalam pengintegrasian perangkat-perangkat yang digunakan dalam seluruh bidang, termasuk pertanian.

Manfaat IoT

Berikut merupakan manfaat yang dapat diperoleh melalui penerapan IoT:

  1. Konektivitas. Melalui IoT, kita dapat mengoperasikan banyak hal dari satu perangkat misalnya smartphone.
  2. Efisiensi. Dengan peningkatan konektivitas, terdapat penurunan jumlah waktu yang biasanya dihabiskan untuk melakukan tugas yang sama.
  3. Kemudahan. Dengan penerapan IoT, tidak perlu mengoperasikan suatu perangkat secara manual serta dapat mempermudah suatu aktivitas.[2] 

Setelah mengetahui manfaat dari IoT, penerapan IoT seperti apa ya yang dapat diaplikasikan ke bidang pertanian? Berikut kami paparkan beberapa penerapan IoT dalam bidang pertanian:

Precision Farming dengan Sensor Pertanian Terintegrasi

Precision farming merupakan konsep pertanian dengan keakuratan sesuai kondisi lapangan. Penerapan Precision farming dengan sensor yang terhubung IoT dapat memaksimalkan akurasi dikarenakan data yang didapat secara real time. Konsep precision farming telah diterapkan di daerah Sukabumi pada tahun 2019. Program ini didirikan Mitra Sejahtera Bangsa (MSMB) dengan bantuan Asian Development Bank dan Bappenas. Pengaplikasian ini menggunakan 20 sensor (diantaranya sensor tanah, cuaca, dan debit air) yang terhubung dengan internet.

Agricultural Drone

Penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau yang lebih dikenal dengan drone merupakan inovasi yang sudah mulai sering digunakan. Menurut Putranto dan Dini (2018)[3], Sistem drone berfungsi sebagai pemetaan kondisi pertanian (irigasi, kondisi tanaman, pelacakan hewan), dan sebagai penyemprot pestisida maupun pupuk. Penggunaan drone dapat meningkatkan presisi penyemprotan dan pemetaan serta menghemat waktu karena petani tidak perlu langsung turun ke lapangan.

Smart Greenhouse

Tanaman yang ditanaman di rumah kaca bertujuan agar dapat terisolasi dari lingkungan luar sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pengaplikasian sensor ini dapat membantu menjaga lingkungan greenhouse mendukung pertumbuhan tanaman. Sensor lingkungan (suhu, kelembaban ruangan dan tanah, intensitas cahaya ) yang terhubung dengan internet dapat menyediakan data real time sehingga akan memudahkan perawatan[4].

Penerapan IoT dalam pertanian ternyata sangat menarik bukan? Dilihat secara keseluruhan, penerapan IoT dalam pertanian ini ternyata sangat membantu terutama dalam hal perawatan agar tanaman pertanian dapat tetap terjaga kualitasnya sehingga dapat menghasilkan hasil pertanian yang efektif. Namun di Indonesia sendiri penggunaan IoT masih memiliki pro dan kontra seperti di bawah ini:

Pro :

  • Praktis, cukup dengan satu sistem kendali, banyak aspek dapat dikendalikan seperti suhu, kelembaban, pemberian air, dll.
  • Dapat meningkatkan efisiensi produksi
  • Pertumbuhan dan produksi tanaman dapat dipantau secara real time
  • Memudahkan dalam perawatan tanaman.

Kontra :

  • Petani sulit merubah kebiasaan lama. Terbiasa dengan pola budidaya konvensional
  • Memerlukan modal awal yang besar
  • Butuh pelatihan penggunaan teknologi kepada petani
  • Adanya stigma bahwa pekerjaan petani akan digantikan mesin, sehingga petani merasa takut terhadap perubahan teknologi.

Berdasarkan pro dan kontra di atas terkait penggunaan IoT dalam pertanian, maka kita perlu membuat stratetegi penting agar kedepannya kita dapat mengembangkan dan memaksimalkan potensi pertanian dengan IoT. Beberapa strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Perlu penerapan multidisiplin ilmu
  • Regenerasi petani muda yang paham teknologi
  • Membangun komunikasi yang baik dengan para petani
  • Pembuatan Pilot Project, sehingga dapat memberikan contoh penerapan IoT yang sukses.

Dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan teknologi tak dapat terelakkan dan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan. Sudah saatnya bagi calon perekayasa pertanian untuk mulai bergerak, mengamati keadaan pertanian saat ini, berinovasi serta terus mengembangkan potensi pertanian Indonesia yang dimiliki. Sekarang saatnya petani muda yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik demi memajukan pertanian Indonesia.


[1] Wilianto, W., & Kurniawan, A. (2018). Sejarah, cara kerja dan manfaat internet of things. Matrix: Jurnal Manajemen Teknologi dan Informatika8(2), 36-41.

[2] https://www.jagoanhosting.com/blog/pengertian-internet-of-things-iot/

[3] Putranto, R. A., dan Dini A. S. 2018.“Perlukah DUnia Pertanian Mengenal Internet of things”. Iribb, 6(2): 29-32.

[4] https://www.postscapes.com/greenhouse-climate-and-control-systems/

RUU Cipta Kerja dan “Nasib” Lingkungan Hidup Perkebunan

Hukum lingkungan merupakan salah satu hal terpenting yang menjadi dasar dan pedoman dari segala pengelolaan lingkungan hidup sehingga harus diperhatikan agar tercapai keberlanjutan lingkungan bagi kesejahteraan manusia. Aspek pengelolaan lingkungan hidup memiliki segi dan cakupan yang sangat luas, diantaranya:

  • Pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan
  • Penetapan perancangan tata ruang
  • Menerapkan sistem zona dan baku mutu lingkungan
  • Kebijakan pembuatan/penerapan AMDAL (Analisis mengenai Dampak Lingkungan)
  • Perzinan
  • Penegakkan hukum (law enforcement)
  • Pendayagunaan dan pemberdayaan masyarakat, serta
  • Penanggulangan kerusakan lingkungan dan bencana alam

Dalam bidang pertanian khususnya perkebunan, terdapat UU NO 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan yang telah mengatur tata laksana penyelenggaraan usaha perkebunan mulai dari tahap perencanaan hingga peran masyarakat. Namun, dengan adanya RUU Cipta Kerja yang baru-baru ini menjadi perbincangan semua orang, UU No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan tersebut mengalami beberapa perubahan. Bahkan pasal penting yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup pun dihapuskan.

Pasal 30 RUU Cipta Kerja bidang Pertanian

telah mengubah dan menghapus beberapa pasal penting tentang perlindungan lingkungan. Diantaranya yaitu Pasal 30 Angka 1, Pasal 30 Angka 14, dan Pasal 30 Angka 24.

Pasal 30 Angka 1, merubah Pasal 14 dan menghapus Pasal 14 Ayat 2, menjadi "Penetapan batasan luas minimum dan maksimum penggunaan lahan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat tidak wajib mempertimbangkan aspek-aspek yang sebelumnya dianggap penting seperti ketersediaan lahan yang sesuai secara agroklimat, kondisi geografis, dan pemanfaatan lahan berdasarkan fungsi ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang tata ruang.
Pasal 30 Angka 14, menghapus Pasal 45 yang berisikan ketentuan mengenai kewajiban memiliki izin Lingkungan, kesesuaian RTRW, dan kesesuaian rencana perkebunan sebelum mendapatkan izin usaha perkebunan dihapus.
Pasal 30 Angka 24, menghapus Pasal 68 yang menjelaskan bahwa setelah memperoleh IUP, kewajiban membuat AMDAL, analisis risiko, pemantauan lingkungan hidup, dan kesanggupan penyediaan sarpras penanggulangan kebakaran dihapus.

!!! Pasal 30 Angka 1 !!!
apabila dinyatakan lolos untuk dijadikan Undang-Undang, maka akan berpotensi menimbulkan risiko yaitu pembangunan perkebunan tidak berpotensi lagi memandang daya dukung terhadap lingkungan, karena batas luasan lahan perkebunan dapat mengabaikan ketersediaan lahan, kesesuaian geografis dan agroklimat. Pembangunan perkebunan juga dapat dilakukan masif tanpa menerapkan aspek berkelanjutan, dan dalam jangka panjang dapat merusak lingkungan dan memperburuk luas lahan yang terdegradasi di Indonesia. Selain itu, pembangunan usaha perkebunan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan juga dapat merusak keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Pasal 30 Angka 14 merupakan pasal yang MEMBALIK logika hukum lingkungan, dimana izin Usaha Perkebunan dapat diperoleh sebelum memenuhi persyaratan memiliki izin lingkungan, kesesuaian RTRW, dan kesesuaian rencana perkebunan. Dalam pasal ini tidak ada penjelasan batasan waktu untuk pemenuhan syarat-syarat tersebut, artinya pasal ini kembali berpotensi mengabaikan aspek lingkungan! Kelonggaran regulasi terkait izin perusahaan ini dikhawatirkan akan membuat perusahaan perkebunan melepas tanggung jawab atas lingkungan. Jika terjadi eksploitasi lahan yang tidak sesuai dengan kesesuaian tata ruang dan wilayah, dapat menimbulkan berbagai dampak seperti degradasi lahan dan erosi. Dari kedua dampak tadi apabila tidak segera diatasi, yang terjadi selanjutnya adalah bencana banjir dan longsor dapat terjadi dan pada akhirnya memperpanjang deretan masalah lingkungan di perkebunan.

Pasal 30 Angka 24 menghapus kewajiban AMDAL, analisis risiko lingkungan hidup, dan pemantauan lingkungan hidup. Padahal, AMDAL yang outputnya berupa Rencana Kelola Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dapat dikesampingkan dalam pelaksanaan operasional perkebunan. Apabila hal tersebut benar-benar terjadi, maka lingkungan perkebunan tidak dapat berkelanjutan dan pengusaha perkebunan dapat melepas tanggung jawabnya jika terjadi kerusakan lingkungan! Ya Tuhan…

Memang, pelaksanaan AMDAL memangkas biaya dan waktu yang tidak sedikit, dan apabila tidak dilakukan, maka pembukaan lahan dapat lebih cepat dilakukan dan lingkungan akan terkena dampak buruknya.

Kesimpulan: Tidak teridentifikasi adanya dampak positif terhadap lingkungan jika diberlakukannya RUU Cipta Kerja bidang Pertanian menjadi Undang-Undang.

Justru sebaliknya. Ditemukan banyak pelemahan perlindungan terhadap lingkungan hidup secara sistematis, dimulai dari saat penentuan luasan lahan perkebunan, saat pembuatan izin usaha perkebunan, hingga proses AMDAL pun diabaikan. Oleh karena itu, lebih baik RUU Cipta Kerja ini ditelaah kembali dan pemerintah tidak perlu terburu-buru untuk mengesahkannya jika tidak ingin keberlangsungan lingkungan hidup dan kesejahteraan di Indonesia terancam.

Indasah. 2020. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Yogyakarta: Deepublish Publisher.

Hari Pangan dan Hari Tani Sedunia

Tahukah kalian bahwa Hari Pangan diadakan untuk memperingati apa?

Yap! Betul sekali. Pada tanggal 16 Oktober diperingati Hari Pangan yang bertujuan untuk memperingati berdirinya Food and Agriculture Organization pada tahun 1945. Tahun 2020 ini, FAO mengangkat tema Grow, Nourish, Sustain. Together. Seperti yang kita ketahui bahwa makanan merupakan essence dari kehidupan dan pondasi dari komunitas dan kebudayaan yang kita miliki. Adanya Hari Pangan Sedunia yang bertepatan dengan adanya Pandemi Covid-19 ini diharapkan adanya solidaritas global yang membantu kalangan-kalangan yang terdampak pandemi Covid-19 dan guncangan ekonomi sehingga mereka merasa terbantu dan masih dapat bertahan hidup (AAHAHAHAHA NI BINGUNG KATA2NYA)

Tahukah kamu Hari Tani Nasional diperingati setiap tanggal berapa?

Hari Tani Nasional diperingati setiap 24 September yang bertepatan dengan tanggal dimana Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960) disahkan. UUPA 1960 merupakan spirit dan menjadi dasar dalam upaya perombakan struktur agraria di Indonesia yang timpang dan sarat akan kepentingan sebagian golongan akibat warisan kolonialisme di masa lalu. Hari Tani Nasional tahun ini mengangkat tema Meneguhkan Reforma Agraria untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan.

KETAHANAN PANGAN? Apa tuh….

Ketahanan pangan merupakan suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan (Badan Ketahanan Pangan, 2018).

Ketahanan memiliki pengertian dan konsep yang luas mengikuti perkembangan zaman. Jika konsep ketahanan pangan pada tahun 1980-an berarti adanya akses setiap masyarakat di level individu dan rumah tangga terhadap bahan baku pangan, di masa sekarang (Tahun 2020) ketahanan pangan dimaksudkan bahwa kita sebagai suatu negara mampu untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan pangan di tengah kondisi pandemi COVID-19 ini.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencapai ketahanan pangan yaitu dengan membangun lumbung pangan atau food estate di Kalimantan seluas 700 ribu hektar, dan rencana awal dengan membangun pada 30 ribu hektar lahan gambut. Sebenarnya, proyek food estate ini pernah dilakukan pada mas Orde Baru dengan nama Proyek Lahan Gambut (PLG) 1 juta hektar dan tidak pernah dilanjutkan hingga sekarang. Saat kursi Presiden Indonesia diduduki oleh Susilo Bambang Yudhoyono, proyek tersebut pernah dilakukan direvitalisasi namun nyatanya hingga saat ini proyek itu tidak selesai dan ditinggalkan.

Kondisi petani saat Pandemi saat ini bagaimana ya?

Pandemi Covid-19 menjadikan segalanya menjadi sangat kompleks. Dalam konteks Indonesia, pandemi ini telah menyebabkan krisis ekonomi, diambang resesi, dan bisa menjadi depresi. Orang-orang mulai kehilangan pekerjaannya, sementara beban dan kebutuhan hidup harus selalu terpenuhi. Itu juga yang membuat petani sebagai produsen pangan ikut terdampak.

Upaya pemerintah dalam mengatasi hal tersebut justru kurang memuaskan publik khususnya petani. Pemerintah lebih mengedepankan konsep ketahanan pangan dan food estate untuk mengatasi ancaman krisis pangan, padahal konsep tersebut sudah terbukti gagal dalam mengatasi krisis pangan global pada tahun 2008 dan menyengsarakan petani.

Seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan mengenai Omnibus Law UU Cipta Kerja yang dikatakan oleh masyarakat bahwa UU tersebut lebih menjatuhkan para buruh dan pekerja karyawan. Tak hanya buruh dan karyawan, para petani, nelayan, dan masyarakat adat Indonesia juga dihadapkan dengan ancaman dari UU Cipta Kerja tersebut. UU ini sangat berpotensi mengancam pelaksanaan reforma agraria dan kedaulatan pangan di Indonesia. Hal tersebut telah dikaji oleh Serikat Petani Indonesia yang dipublikasikan dalam Instagram Serikat Petani Indonesia (@spipetani), yang berisi sebagai berikut:

Sumber : https://www.instagram.com/p/CF7JqQOl4jb/?utm_source=ig_web_copy_link
Sumber : https://www.instagram.com/p/CF4o_tYl2_p/?utm_source=ig_web_copy_link

Jadi kesimpulannya?

Ditengah kondisi pandemi seperti ini, Hari Pangan dan Hari Tani Nasional menjadi sebuah peringatan bagi kita selaku masyarakat Indonesia bahwa pahlawan pangan kita justru harus menghadapi kenyataan pahit dengan adanya food estate dan disahkannya Omnibus Law UU Cipta Kerja.

Perlu kita renungkan lagi, sudahkah langkah yang diambil dan kebijakan ini berpihak pada petani, pahlawan pangan kita?

http://www.fao.org/world-food-day/themes/en/

https://spi.or.id/hari-tani-nasional-2020-serikat-petani-indonesia-spi-meneguhkan-reforma-agraria-untuk-mewujudkan-kedaulatan-pangan/

https://kumparan.com/techno-geek/mengenal-ketahanan-pangan-konsep-pengukuran-strategi-1rmKPXzTIWX/full

https://kumparan.com/techno-geek/mengenal-ketahanan-pangan-konsep-pengukuran-strategi-1rmKPXzTIWX/full

DILEMATIS: Konversi Lahan atau Krisis Pangan

Gambut merupakan jenis tanah yang terbentuk dari hasil akumulasi dari sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk. Lahan gambut di Indonesia memiliki potensi yang besar sebagai sumber penghasil pangan karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki lahan gambut seluas 21 juta hektar atau 36 persen dari seluruh lahan gambut di dunia. Kekayaan lahan gambut harus dijaga dan dilestarikan karena gambut di Indonesia tergolong tua yaitu terbentuk dari 5000 tahun yang lalu dan mempunyaki kedalaman hingga 5 meter.

Alih fungsi lahan gambut merupakan perubahan fungsi dari lahan gambut yang pada umumnya tidak sesuai dengan fungsi awal lahan gambut sebagai penyeimbang ekosistem sehingga terjadi penurunan kualitas lingkungan. Seharusnya pengembangan lahan gambut dapat difokuskan pada gambut berketebalan sedang sehingga masih menyisakan lahan gambut sebagai penyeimbang ekologis.

Lahan gambut tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena:

  1. Lahan gambut memiliki kandungan bahan organik (karbon) yang sangat tinggi.
  2. Cadangan karbon di hutan gambut jauh lebih besar dibandingkan hutan tropis lainnya.
  3. Mudah terbakar karena tingginya kandungan bahan organik

Berkaca dari Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar pada masa Orde Baru yang berujung kegagalan akibat :
● Kurangnya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
● Pelaksanaan proyek yang terburu-buru
● Pengelolaan lahan oleh pihak yang kurang ahli

Krisis Pangan merupakan keadaan dimana kebutuhan pangan lebih besar daripada ketersediaan pangan

Ketahanan Pangan adalah “Kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan,
yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya…” (UU No.18 tahun 2012 )

Akibat pandemi COVID-19, pemerintah memutuskan untuk membuka 600 ribu hektar lahan gambut.
Lahan gambut ini kemudian disiapkan untuk menjadi lahan pertanian demi memenuhi kebutuhan pangan rakyat Indonesia dan mencapai ketahanan pangan.
Pembukaan lahan gambut ini memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing.


Sisi positif :

  1. Meningkatkan produksi pertanian di Indonesia untuk pemenuhan pangan.
  2. mengoptimalkan fungsi ekonomis dan sosial budaya dari yang awalnya hanya merupakan
    lahan tidur dengan fungsi ekologis.
  3. pertanian gambut lebih sustainable jika dibandingkan dengan pembakaran lahan gambut atau
    pembukaan pertambangan.
    Sisi negatif :
  4. butuh teknologi pengairan khusus
  5. varietas yang dapat ditanam terbatas karena keadaan tanah yang asam dan kesuburan rendah
  6. merugikan dalam aspek lingkungan

Budidaya di lahan gambut harus memperhatikan:
● Teknologi pengelolaan air yang disesuaikan dengan karakteristik gambut dan jenis tanaman
● Pembuatan drainase mikro sedalam 10-50 cm untuk membuang kelebihan air, menciptakan
keadaan tidak jenuh untuk pernapasan akar tanaman, dan mencuci sebagian asam-asam
organik
● pH tanah gambut yang masam memerlukan upaya ameliorasi untuk meningkatkan pH
sehingga memperbaiki media perakaran tanaman.

Kesimpulan
Budidaya di lahan gambut memungkinkan, namun dengan tetap memperhatikan aspek lingkungannya. Berkaca pada proyek PLG yang lalu, diperlukan analisis AMDAL yang baik dan penerapan di lapangan pun harus tetap diperhatikan.

Badan Pengurus HIMAREKTA “Agrapana” ITB Periode 2020/2021

Badan Pengurus HIMAREKTA “Agrapana” ITB Periode 2020/2021

#AgrapanaMekar

VISI

HIMAREKTA “Agrapana” ITB sebagai wadah pengembangaan anggota yang berkelanjutan dalam suasana kebersamaan dan profesionalitas

MISI

  • Menumbuhkan hubungan baik antar anggota dengan meningkatkan partisipasi dan apresiasi
  • Mengembangkan potensi, minat, dan bakat sesuai dengan kebutuhan anggota
  • Mengembangkan hardskills dan softskills anggota melalui kegiatan yang sinergis dan kolaboratif
  • Meningkatkan mentalitas anggota dalam keprofesian melalui penghasilan karya

Jajaran Badan Pengurus #AgrapanaMekar

Koordinator Dewan Perwakilan Anggota: Millenio Salsabil (11417016)
Ketua Himpunan: Abdul Halim (11417018)
Senator: Tasnim Aina (11417024)
Badan Semi Otonom: Khalish Muhammad Azka (11417017)

Kesekjenan

Sekretaris Jenderal: Felbie Suryafiandi Layardi (11417009)
Kepala Divisi Sekretaris: Zahira Saffana Matriani (11417019)
Kepada Divisi Badan Rumah Tangga: Yoko Purwanti (11417010)
Kepala Divisi Medkominfo: Jennifer Adelia Latif (11417012)

Badan Keuangan

Kepala Departemen Badan Keuangan: Annisa Nur Hapifah (11417038)
Kepala Divisi Bendahara: Metha Vebry Edsan (11417025)
Kepala Divisi Kewirausahaan: Fachry Nur Aiman (11417031)

Departemen Internal

Kepala Departemen Internal: Kireina Novita (11417004)
Kepala Divisi Keakraban: Tiara Ariake Salshabila (11417040)
Kepala Divisi Kesejahteraan Anggota: Candra Nadi Prabowo (11417039)
Kepala Divisi Minat Bakat: Afinda Firda Nilasari (11417052)

Departemen Eksternal

Kepala Departemen Eksternal: Miftahul Jannah (11417023)
Kepala Divisi Intrakampus: Dimisya Luthfiana (11417020)
Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat: Fitriani Kusprayogo (11417015)

Departemen Pengembangan Sumber Daya Anggota

Kepala Departemen Pengembangan Sumber Daya Anggota: Muhammad Naufal Maulana (11417047)
Kepala Divisi Manajemen Sumber Daya Anggota: Natalia Eka Prasetia (11417049)
Kepala Divisi Kaderisasi: Karina Eka Sasmitha (11417008)

Departemen Keilmuan

Kepala Departemen Keilmuan: Tiodora Erdita Trijane Br Ginting (11417035)
Kepala Divisi Keprofesian: M. Ghifary Muktabar (11417033)
Kepala Divisi Karya dan Inovasi: Rifki Muhammad (11417050)
Kepala Divisi Eksplorasi: Fitri Rahmadany (11417032)

KASURA 3.0: Memperingati Hari Gizi Nasional ke-60

Tahukah kalian apa itu hari gizi?

Hari gizi adalah hari yang diperingati untuk menggalang kepedulian dan meningkatkan komitmen dari berbagai pihak, untuk bersama membangun gizi menuju bangsa yang sehat berprestasi melalui gizi seimbang dan produksi pangan berkelanjutan.

Hari gizi diperingati setiap tahunnya pada tanggal 25 Januari. Hal itu disebabkan ketika pada masa kemerdekaan Indonesia yaitu 17 Agustus 1945, gizi masyarakat Indonesia masih buruk. Kemudian ditunjuklah Prof. Poorwo Soedarmo (Bapak Gizi Indonesia) oleh Menteri Kesehatan J. Leimena sebagai ketua Lembaga Makanan Rakyat (LMR). Selanjutnya LMR membentuk Sekolah Juru Penerang Makanan pada tanggal 25 Januari 1951 dan karena jasa Sekolah Juru Penerang Makanan ini, maka setiap tanggal 25 Januari diperingati sebagai “Hari Gizi dan Makanan Nasional”.

Hari Gizi Nasional ke-60 ini bertemakan Gizi Optimal untuk Generasi Milenial, tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan generasi milenial untuk sadar gizi dan kesehatan, perlunya pengembangan SDM dalam pembangunan kesehatan yang berkelanjutan melalui perbaikan gizi masyarakat khususnya gizi pada remaja, dan Indonesia pada saat ini sedang dihadapi dengan masalah “triple burden” yaitu stunting (pendek) dan wasting (kurus) yang masih tinggi.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terdapat 3 diantara 10 balita mengalami stunting (pendek), 1 diantara 10 balita wasting (kurus), 1 diantara 10 balita obesitas, 1 diantara 2 ibu hamil mengalami anemia, serta 3 diantara 10 remaja mengalami anemia

(Riskesdas 2013-2018)

Apa itu GMO?

GMO (Genetically Modified Organism) adalah proses perubahan genetik dari suatu organisme dengan teknik rekayasa genetik. GMO telah dimanfaatkan dalam memodifikasi berbagai jenis produk pangan maupun non pangan. Terdapat beberapa pro dan kontra mengenai GMO

Sumber: medicalnewstoday.com

Faktanya, produk GMO yang akan dilepas ke masyarakat harus melewati serangkaian tes terlebih dahulu. Indonesia telah melakukan pengawasan GMO di bawah Kementerian Pertanian serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga produk GMO tetap berada dalam batas aman.

Tidak hanya pada manusia, peningkatan gizi pun perlu dilakukan pada tanaman, terutama tanaman pangan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan penggunaan pupuk dan biofortifikasi. Biofortifikasi adalah salah satu metode utama fortifikasi pangan dengan cara membiakkan tanaman untuk meningkatkan nilai nutrisinya, yang dapat dicapai dengan pemuliaan selektif konvensional. Contoh dari produk biofortifikasi adalah golden rice, mi jagung, garam, produk susu, dan lain sebagainya.

Selain itu, metode utama fortifikasi pangan adalah biologi sintetis serta fortifikasi komersial dan industri. Biologi sintetis adalah penambahan bakteri probiotik ke makanan. Fortifikasi komersial dan industri adalah makanan masak biasa, seperti tepung, beras, dan minyak.

Lalu apa yang telah dilakukan Indonesia?

Sejauh ini, Indonesia telah melakukan beberapa upaya, yaitu:

  1. mengadakan program pendidikan dan pelatihan gizi
  2. mengadakan program pengawasan makanan dan minuman
  3. mengadakan program penelitian dan pengembangan gizi
  4. mengadakan program diversifikasi pangan, serta program pembangunan lainnya di sektor pendidikan, kependudukan dan keluarga sejahtera, agama, industri, dan perdagangan

KASURA 2.0: Teknologi Pertanian

Kesejahteraan Petani

Sebagai negara agraris, proporsi terbesar penduduk Indonesia berada di sektor pertanian. Pelaksanaan pembangunan perekonomian nasional, pedesaan, dan perkotaan juga telah banyak menunjukkan peningkatan. Namun, masalah kemiskinan masih belum terpecahkan. Faktanya banyak orang kaya yang berasal dari petani dan banyak orang miskin yang juga dari petani. Kegiatan pembangunan telah berhasil meningkatkan produksi pertanian namun belum cukup mampu meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, dan penanggulangan kemiskinan di pedesaan.

“Petani dikatakan sejahtera jika mereka mengeluarkan modal rendah tetapi hasilnya tinggi”

Permasalahan yang Berhubungan dengan Kesejahteraan Petani

Masalah dalam bidang pertanian saat ini dapat mengganggu kesejahteraan petani, salah satunya adalah masalah teknologi. Teknologi pertanian di Indonesia sudah berkembang dari proses produksi dihulu hingga hilir. Berbagai macam prototipe alat dan mesin pertanian telah dihasilkan oleh Kementerian Pertanian. Di era revolusi industri 4.0, petani dituntut untuk memanfaatkan teknologi digital dalam mengelola usahataninya. Namun, akses terhadap teknologi yang terbatas dan minimnya pengetahuan menyebabkan petani sulit untuk menyesuaikan diri dengan teknologi yang ada. Kendala yang ada dalam pengaksesan teknologi tersebut diantaranya adalah:

  1. Kendala biaya yang dirasa mahal
    Banyak petani kecil yang terkendala dana dalam menggunakan teknologi untuk mengembangkan usahanya. Selain permodalan, produk yang keluar tidak mempertimbangkan penggunanya. Salah satunya adalah harus menggunakan smartphone, sehingga teknologi belum tepat sasaran.
  2. Kurangnya kapabilitas petani untuk memanfaatkan teknologi
    Kebanyakan petani kecil masih buta terhadap teknologi, namun saat ini banyak anak muda yang tertarik untuk berkecimpung di bidang pertanian. Permasalahan yang perlu ditekankan disini adalah banyaknya teknologi dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah belum tepat guna dan tepat sasaran. Masalah lainnya adalah petani kebanyakan berada di daerah pedalaman yang terkendala dengan jaringan dan tidak adanya pengawasan dan pembinaan secara terus menerus. Contohnya adalah adanya bantuan screenhouse kepada petani, namun saat dicek beberapa waktu kemudian, screenhouse yang ada ditinggalkan oleh petani tersebut karena ada kebingungan ditengah-tengah prosesnya.

Dari kendala-kendala tersebut, maka dihasilkan solusi beberapa solusi, yaitu diadakannya pencerdasan dan pemberdayaan petani yang primitif oleh pemerintah, dilakukannya pembinaan secara rutin, dan pengadaan teknologi yang memiliki ilmu dasar dan cara kerja yang mudah dipahami.

Permasalahan Teknologi pada Petani Sawah di Rancaekek

Dalam kajian ini, sampel yang diambil adalah petani di Rancaekek yang banyak terlibat dalam komoditas petani dan petani di Lembang yang banyak terlibat dalam komoditas hortikultura. Petani di Rancaekek mengalami permasalahan yang cukup banyak, seperti banjir, limbah pabrik dan perumahan, alih fungsi lahan serta teknologi pada proses penanaman, perawatan hingga penanaman padi. Berdasarkan masalah tersebut, kajian ini difokuskan pada petani Rancaekek yang mengalami permasalahan di bidang teknologi pertanian. Lahan pertanian sawah di Rancaekek tidak berbentuk seperti terasering, melainkan berupa hamparan yang luas. Sehingga teknologi yang biasa digunakan dalam tahap pembudidayaan padi adalah:

  1. Pengolahan tanah dan penanaman: Traktor
    Masalah dari tahap ini adalah penggunaan traktor dalam pengolahan tanah dan penanaman menjadi tidak efektif ketika musim kemarau
  2. Perawatan: Penyemprot pupuk dan pestisida
    Masalah dari tahap ini adalah cara penggunaan alat penyemprot pupuk dan pestisida dengan digendong membuat banyak petani mengeluh
  3. Pemanenan: Alat rontok padi
    Masalah dari tahap ini adalah hasil dari penggunaan alat ini biasanya menyebabkan padi menjadi terbelah dua

Fokus utama kajian ini tidak hanya teknologi dengan mekanisasi, namun dapat juga berupa cara/metode baru untuk meminimalisir cost dan waktu. Waktu dan biaya mesin/tenaga kerja dari proses penanaman hingga panen dapat dianalisis dengan Value Stream Mapping. Value Stream Mapping adalah alat untuk mengidentifikasi dan memetakan aliran nilai dan pemborosan yang terjadi di suatu sistem.

Dari VSM diatas, dapat disimpulkan waktu yang dibutuhkan pada setiap proses dari mulai penanaman, perawatan dan penanaman padi adalah 2796 hours atau setara dengan 117 hari dengan biaya mesin/tenaga kerja +/- Rp1.807.000,00. Sehingga dibutuhkan suatu inovasi teknologi di bidang pertanian untuk mengefektifkan waktu, biaya dan lain sebagainya. Bentuk inovasi pengembangan teknologinya adalah Penggantian,Perubahan, Penambahan, Penyusunan kembali, Penghapusan dan Penguatan. Kebutuhan fungsi teknologi yang dibutuhkan petani Rancaekek dalam mengelola padi adalah

Contoh teknologi usulan yang biasa digunakan:

Analisis VSM setelah diterapkannya teknologi pertanian seperti diatas adalah:

Setelah teknologi tersebut diterapkan maka dapat memangkas waktu dan biaya yang dibutuhkan menjadi 2760 jam atau setara 115 hari dengan biaya mesin/tenaga kerja +/- Rp 1.045.000,00

Kesimpulan dan Inovasi

  1. Kondisi petani di Rancaekek:
    a. Pembajakan sawah sudah baik, namun ada kendala diharga sewa traktor yang tinggi.
    b. Panen sudah baik, pemerintah memberikan tresher (alat pemisah gabah dengan bulir padi).
    c. Fokus kajian di perawatan, khususnya pemupukan dan pemberian pestisida (masih menggunakan alat yang digendong).
  2. Tidak semua proses dalam pertanian cocok untuk disisipkan teknologi industri 4.0, bisa jadi jika semua aktivitas disisipkan teknologi industri 4.0, malah menambah biaya.
  3. Teknologi yang dikembangkan sebaiknya berakar dari kebutuhan. Misal masalah pupuk yang berkilo-kilo harus digendong oleh petani, mungkin dapat digunakan roda untuk mobilisasi pupuk.
  4. Moderator sudah mengecilkan proses perawatan menjadi 2 sub komponen. Namun perlu dijabarkan lagi penggunaan waktu, kuantitas air, atau cost dari setiap subkomponen tersebut, sehingga kita tahu tingkat kepentingan masalah. Mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu (prioritas).

Ide/Inovasi

  1. Teknologi dalam pemberian pestisida dilihat dari fisik tanaman. Contoh aplikasi yang sudah ada adalah Neurafarm (Sensor fisik).
  2. Perlu dihubungkan pertanian dengan SIG (Sistem Informasi Geografis).
  3. Alat yang digendong perlu diganti dengan alat penyemprot dari luar/pinggir sawah (jarak cukup jauh dari tanaman, misal dengan memanfaatkan tekanan).
  4. Untuk luasan lahan besar dengan pelaku pertanian sedikit, penggunaan drone cukup baik. Selain alat, penggunaan sistem tanam jajar legowo juga cocok untuk mengatasi serangan hama.
  5. Kita dapat menggunakan biopestisida dibanding dengan pestisida biasa, karena lebih long lasting.
  6. Perlu dilakukan rekayasa sistem kerja, yaitu dengan mendesain dan menerapkan sistem kerja yang ergonomi, agar dapat meningkatkan produktivitas pekerja/petani.
  7. Cakupan kita adalah petani Rancaekek. Kemarin sebelumnya sudah wawancara, dimana aktivitas perawatanlah yang dapat dikembangkan, khususnya penebaran pupuk dan pestisida. Cara yang mungkin diterapkan adalah
    a. High tech : drone
    b. Low tech : sprinkle
    Inovasi sprinkle disini yaitu dapat menyebar pupuk dan pestisida dengan merata di lahan (kemungkinan butuh sensor). Lalu dapat digunakan baik untuk pupuk maupun untuk pestisida (dual fungsi).

MEMPERINGATI HARI TANI NASIONAL DAN HARI KRIDA PERTANIAN

-Apresiasi Bagi Para Pahlawan Pangan-

KASURA 1.0 | HIMAREKTA ‘Agrapana’ ITB

Hari Tani Nasional 

Hari Tani Nasional merupakan bentuk peringatan dalam mengenang sejarah perjuangan kaum petani serta membebaskannya dari penderitaan. Hari Tani Nasional dirayakan setiap tanggal 24 September sebagai pengingat ditetapkannya Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960).   

Hari Krida Pertanian 

Hari Krida Pertanian merupakan hari besar yang diperingati setiap tanggal 21 Juni oleh Masyarakat Pertanian Indonesia. Penetapan ini didasarkan atas pertimbangan dari segi         astronomis dimana pada tanggal tersebut matahari berada pada garis 23,50 lintang utara. Posisi ini menyebabkan terjadinya pergantian iklim seiring dengan perubahan-perubahan usaha pertanian, termasuk kegiatan panen untuk sejumlah komoditas pertanian. Maka dari itu bulan Juni merupakan bulan penting bagi para pelaku usaha pertanian. 

Memaknai Hari Tani Nasional dan Krida Pertanian

Peringatan Hari Tani Nasional dan Krida Pertanian  memiliki makna untuk mengenang sejarah perjuangan kaum petani. Hari ini menjadi tonggak sejarah bangsa dalam memandang arti penting petani  dan hak kepemilikan atas tanah, serta keberlanjutan agraria di Indonesia.

Kesejahteraan petani 

Sebagai negara agraris, proporsi terbesar penduduk Indonesia berada di sektor          pertanian. Pelaksanaan pembangunan perekonomian nasional, pedesaan, dan perkotaan juga telah banyak menunjukkan peningkatan. Namun masalah kemiskinan masih belum terpecahkan. Faktanya banyak orang kaya yang berasal dari petani dan banyak orang miskin yang juga dari petani. Kegiatan pembangunan telah berhasil meningkatkan produksi pertanian namun belum cukup mampu meningkatkan pendapatan, kesejahteraan, dan penanggulangan kemiskinan di pedesaan (Rachmat,2013). 

Untuk menilai perkembangan kesejahteraan petani, diperlukan alat ukur atau indikator. Salah satu indikator yang digunakan untuk menilai tingkat kesejahteraan petani  adalah Nilai Tukar Petani(NTP) atau Farmer Terms of Trade(FTT).Nilai NTP dihitung darirasio harga yang diterima petani dan harga yang dibayar petani, sehingga NTP dinilai menggambarkan ukuran kemampuan daya beli/daya tukar petani terhadap barang yang dibeli  oleh petani (Rachmat,2013).   

Permasalahan yang Berhubungan dengan Kesejahteraan Petani A. Permodalan 

Masalah permodalan merupakan permasalahan paling mendasar yang sering dihadapi         petani. Keterbatasan modal membuat kuantitas dan kualitas hasil yang didapat petani menjadi tidak maksimal. Masalah permodalan yang sering dihadapi petani meliputi:

1.Kesulitan Terhadap Prosedur Peminjaman yang Rumit

Banyak petani yan menganggap prosedur peminjaman ke bank itu rumit, sehingga kebanyakan petani kecil telah termindset apabila ingin mudah pinjam kepada rentenir saja

Solusi : Prosedur butuh didampingi oleh dinas pertanian dan dapat diakses online sehingga petani kecil lebih merasa lebih terjamin. Sebagai mahasiswa, bisa bekerjasama dengan bidang keilmuan lain untuk membuat platform/aplikasi yang prosedurnya tidak rumit sehingga petani-petani keciil lebih mudah mengasksesnya

  • Rendahnya jumlah petani yang mengakses kredit dan asuransi

Petani sebenarnya telah bisa mengakses berbagai platform untuk membantu dalam masalah permodalan. Masalahnya kebanyakan petani-petani kecil masih belum menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut

Solusi : Sebenarnya asuransi bagi petani sudah ada termasuk asuransi apabila petani kecil tersebut mengalami gagal panen. Subsidi pupuk, benih dan pestisida sebenaranya juga sudah banyak dilakukan pemerintah. Sehingga dibutuhkan feedback anatar petani dan pemerintah tersebut. Sebagai mahasiswa,misal mahasiswa yang himpunannya memiliki desa binaan bisa membantu sosialisasi kepada masyarakat petani terkait fasilitas-fasilitas yang sudah diberikan kepada pemerintah

  • Rendahnya tingkat kepercayaan bank.

Kebanyakan bank tidak mau meminjamkan modal kepada petani kecil karena petani tidak memiliki jaminan untuk mengembalikan uang.

Solusi : Melakukan sosialisasi dan  mempertemukan peminjam modal dan petani kecil sehingga mampu menemukan titik tengah petani dan pemberi modal. Pemodal lebih yakin kalau petani memiliki jaminan.

Kesimpulan : Petani membutuhkan akses permodalan yang cepat,mudah dan berpihak kepada petani.

  • Kondisi Lahan 

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 telah mengatur hukum agraria. Dalam UndangUndang ini menyatakan, peruntukan penggunaan bumi untuk keperluan pertanian lebih didahulukan daripada untuk keperluan perkembangan industri, transmigrasi, dan pertambangan. Namun realitanya lahan pertanian dan sawah irigasi pada tahun 2017 mengalami penurunan dari tahun 2016 dikarenakan :

1. Alih Fungsi Lahan

Permasalahan dari lahan hutan menjadi pertanian, dan dari lahan pertanian menjadi lahan industri/perumahan

Solusi : Harus memperhatikan fungsi dan tujuan masing-masing lahan tersebut. Setelah itu dilakukan evaluasi lahan terkait kemampuan dan kesesuaian lahan apakah cocok dengan lahan hutan,pertanian maupun industri. Pemangku kebijakan juga memiliki peran penting terkait permasalahan ini khusunya dalam mengatur RUU pertanahan dan UUPA 1960

  • Penguasaan lahan

Penguasaan lahan yang tidak sebanding antara petani gurem (kurangdari 0,5 Ha) dan petani besar ataupun perusahaan perkebunan memberikan kesenjangan sosial. Solusi : Penegakan UU Agraria dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kecil. UUPA 1960 peraturannya masih dianggap general, belum ada peraturan khusus karena UUPA hanya menyalin perpres. Sehingga pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam kebijakan permasalahan penguasaan lahan.

  • Saluran irigasi

Kurangnya pembangunan saluran irigasi dan banyaknya saluran irigasi yang rusak mengakibatkan menurunya daya dukung bagi pertanian. Kerusakan ini diakibatkan karena erosi, kerusakan DAS, dan kurangnya pemeiharaan 

  • Iklim dan cuaca. 

Perubahan iklim dan cuaca yang tidak beraturan mengakibatkan banyak usaha tani yang mengalami kegagalan panen akibat banyaknya produk pertanian yang terserang hama dan penyakit, hasil panen busuk dan lain sebagainya

  • Teknologi 

Teknologi pertanian di Indonesia sudah berkembang dari proses produksi di hulu           hingga  hilir. Berbagai macam prototipe alat dan mesin pertanian telah     dihasilkan oleh Kementerian Pertanian. Di era revolusi industri 4.0, petani dituntut untuk memanfaatkan teknologi digital dalam mengelola usahatani nya. Namun akses terhadap teknologi yang terbatas dan minimnya pengetahuan menyebabkan petani sulit untuk menyesuaikan diri dengan teknologi yang ada Namun petani-petani kecil masih memiliki kendala  dalam mengakses teknologi tersebut, mulai dari :

  1. Kendala biaya yang dirasa mahal

Banyak petani kecil yang terkendala dana dalam menggunakan teknologi untuk mengembangkan usahanya. Selain permodalan, produk yang keluar tidak mempertimbangkan penggunanya. Contohnya harus menggunakan smartphone dll, sehingga teknologi belum tepat sasaran.

  • Kurangnya kapabilitas petani untuk memanfaatkan teknologi

Kebanyakan petani kecil masih buta terhadap teknologi, walaupun demikian sekarang banyak anak muda yang tertarik untuk berkecimpung di bidang pertanian.  Permasalahan yang perlu ditekankan disini adalah banyaknya teknologi dan bantuan yang diberikan oleh pemerintah belum tepat guna dan tepat sasaran. Sensor belum dipakai karna petani belum dapat menjangkau teknologi tersebut. masalah lain adalah petani kebanyakan di daerah pedalaman, ada masalah di jaringan. Ketika anak muda yg mempunyai ide/teknologi, kendalanya adalah menganggap hanya selesai disitu. tidak ada pengawasan dan pembinaan secara terus menerus. Contoh kita kasih screen house kepada petanu, saat dicek beberapa waktu kemudian, malah ditinggalkan oleh petani tersebut karena ada kebingungan ditengah-tengah prosesnya. Teknologi yang dihadirkan tidak tepat sasaran, bandingkan saja dengan aset yang dimiliki oleh petani kecil. Sensor, tidak bisa dimanfaatkan sepenhnya dan kurang tepat untuk permasalahan saat ini. Akar masalah adalah bagaimana ketika penyelenggaraan bantuan dari pemerintah tidak menyerap keluh kesah masyarakat.

Solusi : 

  1. Pemerintah mengadakan P4S untuk mencerdaskan dan memberdayakan petani yang primitif sehingga kita bisa mengarahkan petani bukan menyalahkan apabila terjadi kesalahan
  2. Dilakukan pembinaan secara rutin.
  3. Butuh teknologi yang ilmu dasar dan cara kerjanya mudah dipahami. Di Indonesia kita terlalu memahami bagian cabang, bukan akarnya. Padahal yang penting adalah di akar masalahnya

KESIMPULAN :

Semua permasalahan terkait kesejahteraan petani tidak semua bisa disamaratak

Kesejahteraan tiap individu petani tentu berbeda tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Solusi yang mudah diterapkan, cepat dan berpihak kepada petani tentu akan menjadi solusi yang terbaik. “Petani adalah Pahlawan Pangan”. Pahlawan yang memberi kita makan dan membantu menjaga keberlangsungan hidup di bumi. Sebuah langkah kecil dan mudah diterapkan akan berdampak terhadap kesejahteraan petani, walaupun hal tersebut tidak langsung dirasakan oleh petani tersebut. Apresiasi kecil yang bisa kita lakukan adalah dengan menghabiskan makanan dan tidak membuang-buangnya. Terlepas dari permasalahan modal,lahan maupun teknologi sebuah apresiasi ini penting agar jasa Pahlawan Pangan ini tidak begitu saja dilupakan.

Referensi: 

Hasil Kajian KASURA 1.0 (Kajian Seru Agrapana) bersama massa kampus

Dewi,I.A.L.,dan Sarjana, I.M.2015.”Faktor-Faktor Pendorong Alihfungsi Lahan Sawah       Menjadi Lahan Non-Pertanian”.Jurnal Manajemen Agribisnis  , 3(2).163-171.

Supriatna,A.2003.”Aksesibilitas Petani Kecil Pada Sumber Kredit Pertanian di Tingkat Desa: Studi Kasus Petani Padi di Tingkat Desa”.Balai BPPTP Badan Litbang Pertanian  , 1(1): 1- 15

 

Pertanian di Era Revolusi Industri 4.0?

Yukk,kita bahas lebih lanjut…

Apa sih Revolusi Industri 4.0 ?

Revolusi Industri 4.0 merupakan trend di dunia industri yang menggabungkan antara teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber.

Kok udah 4.0 aja ? 1.0 nya apa ?

Gini nih sejarahnya :

  1. Revolusi indutri 1.0  : penemuan mesin uap
  2. Revolusi industri 2.0  : penemuan tenaga listrik
  3. Revolusi indutri 3.0 : otomasi
  4. Revolusi Industri 4.0 : Efisiensi mesin dan manusia yang terkonektivitas dengan internet

Elemen Revolusi Industri 4.0

  1. Internet of Things (IoT) 
  2. Artificial Inteligence
  3. Human-machine interface (Drones,Satelite etc)
  4. Tecnology robotic and sensor
  5. 3D Printing 

Peranan Revolusi Industri 4.0 di Bidang Pertanian  ?

Revolusi Industri 4.0 memiliki peranan penting dalam mencapai target swasembada pangan berkelanjutan melalui mekanisasi pertanian. Mekanisasi ini dapat berupa mesin otomatis yang terintegrasi dengan internet sehingga diharapkan bisa mencapai target swasembada tersebut.

Penasaran sama alat-alat mekanisasi tersebut ? Apa aja sih ?

Ternyata sekarang alat-alat mekanisasi sudah berkembang loh. FYI : dari mesin pengolahan tanah sampai panen untuk beberapa komoditas pertanian sudah lengkap,sehingga semakin memudahkan pekerjaan manusia

  • Pengolahan tanah
  •                Penanaman Benit dan Bibit
  • Mesin Penakar Pupuk, Pengairan, dan Pencegahan Hama Penyakit
  • Pemanenan

Pertanian di Era Revolusi Industri 4.0 ?

  • Smart Farming (Pertanian Pintar)
  • Precision Farming (Pertanian Terukur)
  • Gene Editing (Bioteknologi) Misal GMO

Contoh Pengaplikasian Pertanian 4.0 di Indonesia

Pengaplikasiannya tersebut bisa di lihat pada “Habibi Garden” yang merupakan sebuah perusahaan digital yang berusaha memberikan solusi untuk para petani berkomunikasi dengan tanaman dengan menggunakan teknologi IoT seperti sensor suhu, kelembaban, nutrisi dan lain sebagainya.

Kendala Perkembangan Pertanian 4.0 di Indonesia ?

Di bidang pertanian, revolusi industri 4.0 belum terlalu dominan karena beberapa faktor di antaranya sumber daya manusia, kondisi lahan pertanian Indonesia, serta teknologi yang belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat. 

Upaya yang dilakukan Pemerintah ?

Kementan telah menyiapkan rencana pengembangan pertanian dengan menyediakan berbagai macam alat mekanisasi dan sosialisasi kepada masyarakat, sehingga diharapkan Indonesia mampu menjawab tantangan untuk menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045.

Sumber : 

Danu Adji. 2019. “24 Alat Pertanian Modern yang Bisa Digunakan di Indonesia” danuadji.com Pak Tani. 2018. “3 Fakta Revolusi Industri 4.0 pada Pertanian Indonesia” paktanidigiital.com. 

#BanggaBereksplorasi

Hidroponik: Budidaya Tanaman Tanpa Tanah

Hidroponik terdiri dari kata hydro yang artinya air dan poros yang artinya daya. Hidroponik dapat diartikan sebagai budidaya tanaman tanpa media tanah, melainkan menggunakan air yang telah diberi nutrisi, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik. Hidroponik dapat dijadikan solusi untuk mengatasi lahan yang terbatas, lahan yang telah rusak, dan adanya serangan dari hama dan penyakit pada tanaman. Selain mengatasi masalah-masalah tersebut, hidroponik juga memiliki banyak manfaat, yaitu menghasilkan kualitas tanaman yang lebih baik, tanaman terhindar dari hama, menghemat penggunaan pupuk, menimalisir penggunaan lahan, tanaman dapat tumbuh dengan cepat, dan menghemat tenaga dan waktu. Contoh dari tanaman-tanaman yang dapat dibudidayakan dengan metode hidroponik adalah selada, cabe, tomat, kangkung, dan stroberi.

Tanaman cabe dalam budidaya hidroponik

Air dalam hidroponik berfungsi untuk melarutkan nutrisi yang akan di serap oleh akar tanaman. Nutrisi yang biasa digunakan adalah larutan AB Mix yang terdiri dari larutan A dan larutan B. Larutan A adalah unsur makro yang diperlukan oleh tumbuhan, yaitu Nitrogen (N), Phospat (P), Kalium (K), Calsium (Ca), Magnesium (Mg), dan Sulfur (S). Larutan B adalah unsur mikro yang diperlukan oleh tumbuhan, yaitu Besi (Fe), Mangan (Mn), Zinc (Zn), Tembaga (Cu), Boron (B) dan Molibdenum (Mo). Larutan AB Mix dibuat dengan cara sebagai berikut:

  1. Siapkan larutan A dan larutan B
  2. Siapkan 2 ember dan diisi air bersih sebanyak 5 L
  3. Siapkan 2 jirigen 5 L untuk menyimpan stok nutrisi
  4. Tuangkan larutan A dan B termasuk bubuk kecilnya ke dalam masing-maisng ember.
  5. Aduk hingga rata
  6. Tuangkan masing-masing larutan ke dalam jirigen yang berbeda
  7. Ambil masing-masing 5 mL larutan A dan B dari masing-masing jirigen
  8. Campurkan 5 mL larutan A dan B ke dalam 1 L air bersih
  9. Aduk hingga rata
  10. Nutrisi sudah siap untuk digunakan

Keberadaan air sebagai media utama memerlukan bantuan dari media lainnya yang dapat berperan sebagai penyangga tanaman. Contoh dari media tersebut adalah rockwool, arang sekam, batu bata, hydrogel, dan pasir.

Metode hidroponik terdiri dari beberapa metode, yaitu:

  1. Wick system, budidaya menggunakan sumbu
  2. Drip system, budidaya dengan sistem tetes
  3. Raft system
  4. NFT system (Nutrient Film Technique), pengaturan pemberian nutrisi dengan bantuan timer
  5. Aquaponic, budidaya menggunakan nozzle agar nutrisi bisa tersebar ke akar tanaman
  6. Bubbleponic, larutan nutrisi dipompakan melalui pembentuk gelembung untuk memperkaya kandungan oksigen
  7. Bioponic, budidaya tanaman yang menggabungkan antara sistem hidroponik dengan sistem pertanian organik

Dari metode-metode tersebut, metode yang cocok untuk pemula adalah metode wick system. Alat dan bahan yang harus disiapkan dengan metode ini adalah botol air mineral, gunting, sumbu, paku, dan larutan AB Mix. Cara kerjanya adalah:

  1. Potong botol bekas menjadi 2 bagian
  2. Lubangi tutp botol
  3. Gabungkan kedua bagain botol dengan cara membalik bagian moncong botol menghadap ke bawah
  4. Pasang sumbu pada tutup botol
  5. Tanam bibit tanaman pada bagian atas dengan media secukupnya
  6. Isi bagian botol bawah dengan air nutrisi
Budidaya hidroponik menggunakan wick system

Hidroponik ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah produksi tanaman lebih tinggi jika di bandingkan dengan metode tanam dengan tanah, tanaman dapat terbebas dari hama dan penyakit, menghemat pemakaian pupuk, penggantian tanaman lebih mudah, mempermudah pekerjaan maupun perawatan tanaman, dan tanaman akan memberikan hasil secara berkelanjutan. Kekurangan dari hidroponik adalah memerlukan biaya lebih di awal, terutama jika berencana untuk menanam hidroponik dalam skala besar, membutuhkan alat-alat khusus, memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus, membutuhkan ketelitian yang lebih, karena nutrisi untuk tanaman harus benar-benar di awasi secara cermat.